Cerita dimulai dengan kedatangan kapal-kapal besar yang membawa alat berat untuk mendukung proyek pangan dan energi, seperti biodiesel berbasis sawit dan bioetanol dari tebu. Kehadiran proyek tersebut memicu keresahan warga yang selama ini menggantungkan hidup pada hutan dan tanah adat.
Dokumenter ini juga memperlihatkan berbagai bentuk penolakan masyarakat, mulai dari pemasangan palang adat, simbol-simbol keagamaan, hingga gerakan kolektif menolak aktivitas perusahaan dan aparat di wilayah adat.
Di sisi lain, film ini menggambarkan eratnya hubungan masyarakat Papua dengan alam dan tradisi. Istilah “pesta babi” sendiri menjadi simbol kehormatan, persaudaraan, dan kebersamaan dalam budaya setempat.
Diputar dari Komunitas ke Komunitas
Berbeda dari film komersial, Pesta Babi tidak diputar di bioskop, melainkan berkeliling melalui agenda nobar di berbagai kota. Film ini pertama kali diputar di Taman Ismail Marzuki pada April 2026 dan sejak itu terus menarik perhatian publik.
Film ini juga menjadi sorotan karena digarap oleh tim yang sebelumnya dikenal lewat karya dokumenter bertema sosial dan politik seperti Sexy Killers dan Dirty Vote.
Hingga kegiatan berakhir, suasana nobar di Kota Tual terpantau berlangsung tertib dan kondusif, dengan peserta mengikuti jalannya diskusi secara aktif.









