Jika sejak awal takut pada jeruji, maka keberanian yang dipertontonkan tak lebih dari properti. Dipakai saat aman, dilipat ketika risiko mendekat.
Ironisnya, Eggi Sudjana adalah sosok yang rajin mengutip ayat tentang kesabaran, keadilan, dan keberanian moral. Namun ketika ayat-ayat itu menuntut konsekuensi nyata, keberanian tersebut mendadak menipis—seperti iman yang diuji hujan pertama.
Namun kisah pelaut takut ombak itu tidak berhenti pada lompatan dari geladak.
Setelah Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis melompat dari kapal perlawanan dan melipir ke Solo, cerita mengambil belokan yang lebih getir.
Keduanya kembali naik ke geladak. Bukan untuk mengajak kapal kembali ke laut, melainkan untuk melakukan sesuatu yang lebih kejam dari sekadar mundur: tidak saja melemparkan tiga awak tersangka ke laut, tapi seluruh awak lain yang konsisten tetap berlayar.
Tentu bukan secara harfiah. Yang dilempar adalah keanggotaan, legitimasi, dan martabat perjuangan.
Para pengurus TPUA yang sejak awal bertahan justru diberhentikan–Rizal Fadillah, Kurnia Tri Royani, Rustam Efendi, Ayub Khan, Muslim Arbi, dan Izmar. Alasannya mengada-ada, dicari-cari, dan disusun semaunya—seolah kapal yang bocor harus disalahkan pada awak, bukan pada nakhoda yang panik.










