Malam itu ia berangkat. Dengan sedikit ketakutan jika di tengah jalan seseorang mencegatnya karena jalan setapak yang ia lalui cukup remang ditimpa cahaya, hanya benderang lampu neon 5 watt di ujung jalan yang memisahkan desanya dengan desa seberang yang mampu membantu penglihatannya dari jarak jauh, sekedar penanda bahwa ia telah sampai di desa tujuan.
Sesampainya ia di desa itu, alunan musik gamelan bertalu-talu dari rumah si empunya hajat. Ia bersegera melangkahkan kakinya sebelum tatapannya berserobok dengan penari lain sepertinya, hanya saja dandanannya begitu mencolok dan memikat pandangan.
Ia pun menari bersama undangan yang ada di tempat acara, sekali-kali mereka menyelipkan uang sawer di celah-celah kutangnya. Ia risih namun tetap ia pendam karena mak Inah meunggunya degan uang ditangannya.
Malam kian larut saat para lelaki dewasa yang meronda malam itu menemukan jasad perawan di pinggir semak tak jauh dari danau Maninjau. Jasad perawan itu sudah tak berupa gadis lagi namun tampak keriput dari raut wajahnya. Para lelaki dewasa itu tampak gusar, karena malam ini korban berjatuhan lagi setelah sebelumnya putri pak Kades juga meninggal dengan kondisi yang serupa.
Kabar itu secepat kilat menyebar ke pelosok desa tak terkecuali Cahyu yang sore itu mempersiapkan dirinya untuk tampil kembali di acara pernikahan Pak Somad di RT sebelah. Ia Nampak gelisah antara memilih tetap tampil ataukah tidak. Karena desas-desus tewasnya beberapa perawan yang tak lazim di kampong itu beberapa hari kemarin. Ia takut jika tetap memaksakan untuk tampil bisa-bisa dirinyalah yang akan menjadi korban malam ini.










