Perempuan yang Dipinjam Laut

oleh -283 views

Tentang pelaut-pelaut Galela yang membaca bintang.

Tentang armada kora-kora Kesultanan Ternate yang melintasi laut utara Halmahera.

Tentang saudagar Gujarat dan Koromandel yang membawa kain-kain indah, lalu pulang dengan lambung kapal penuh rempah.

Seorang anak mengangkat tangan.

“Kalau mereka hebat, kenapa nama mereka tidak ada di buku sejarah?”

Samad tersenyum.

Ia memandang laut yang mulai gelap.

“Karena sejarah sering mengingat raja.”

Ia berhenti sejenak.

“Padahal laut lebih suka mengingat pelaut.”

Anak-anak itu saling berpandangan.

Mungkin mereka belum benar-benar memahami kalimat itu.

Namun Samad percaya, sebagaimana kata-kata Kakek Mahmud pernah tinggal di kepalanya bertahun-tahun, suatu hari kalimat itu akan menemukan waktunya sendiri.

Baca Juga  HUT ke-122 GPM Rehoboth, Wali Kota Ambon Tekankan Peran Gereja Bangun Karakter dan Persaudaraan

Malam semakin larut.

Anak-anak telah pulang.

Samad duduk sendirian di batu karang menghadap teluk.

Lampu-lampu perahu nelayan berpendar di kejauhan, seperti bintang yang turun ke permukaan laut.

Sudah bertahun-tahun hidupnya berjalan dalam irama yang sama.

Melaut.

Bercerita.

Menunggu musim.

Dan, tanpa pernah benar-benar diakuinya, menunggu seseorang.

Ia tidak lagi menghitung berapa lama Lela pergi.

Sebab penantian yang terlalu panjang akhirnya berhenti mengenal hitungan waktu.

No More Posts Available.

No more pages to load.