Perempuan yang Dipinjam Laut

oleh -289 views

Untuk pertama kalinya, ia melihat kampungnya sendiri dari sudut pandang yang sama sekali berbeda.

Leluhurnya bukan hanya nelayan.

Mereka pelaut.

Mereka pembaca bintang.

Mereka penghubung pulau-pulau.

Mereka orang-orang yang tak pernah ditulis sejarah, tetapi ikut menggerakkan dunia.

Lela menutup buku itu perlahan.

Dadanya terasa sesak.

Selama ini ia sibuk mempelajari laut.

Namun ternyata ia belum benar-benar mengenal laut yang membesarkannya sendiri.

Beberapa bulan kemudian, telepon dari kampung datang menjelang Subuh.

Ibunya menangis.

“Lela…”

Suara itu berhenti beberapa saat.

“Ayahmu sudah pergi.”

Empat kata.

Hanya empat kata.

Tetapi seluruh dunia seperti runtuh tanpa suara.

Ia pulang tergesa-gesa.

Pesawat.

Kapal.

Mobil.

Semua perjalanan terasa terlalu lambat.

Baca Juga  Bongkar Harta Fantastis Pejabat Irak, Petugas Sita Bra dan Celana Dalam Emas Bertabur Permata

Ketika tiba di rumah, ayahnya telah terbujur kaku di ruang tengah.

Wajahnya tampak tenang.

Seolah sedang tertidur setelah lelah bekerja.

Lela berlutut di samping jenazah.

Ia ingin meminta maaf.

Ingin menceritakan banyak hal.

Ingin mengatakan bahwa ia masih mengingat semua nasihat ayahnya.

Tetapi waktu telah lebih dulu menutup pintu.

Selama tiga hari ia tinggal di kampung.

Ia membantu ibunya menerima pelayat.

Mendengar cerita-cerita lama tentang ayahnya.

Tentang bagaimana lelaki itu tak pernah pulang dari laut dengan tangan kosong, meski hasil tangkapan sedikit.

No More Posts Available.

No more pages to load.