Beberapa hari setelah perpisahan itu, sebuah paket tiba dari Galela.
Pengirimnya: Ibu.
Di dalamnya terdapat beberapa butir pala kering.
Segenggam cengkih pilihan.
Sehelai kain tenun lama.
Dan sebuah kotak kayu kecil.
Lela membukanya perlahan.
Di dalam kotak itu terbaring sebuah kompas tua.
Kompas milik kakeknya.
Jarumnya masih bergerak pelan.
Di bawahnya terselip secarik kertas.
Tulisan tangan ayahnya.
“Kalau suatu hari kau kehilangan arah, jangan mencari utara di langit.”
“Carilah di dalam hatimu.”
Lela memegang kompas itu lama sekali.
Di luar jendela apartemen, Jakarta tetap sibuk seperti biasa.
Kendaraan melintas tanpa henti.
Gedung-gedung memantulkan cahaya.
Namun malam itu, untuk pertama kalinya, ia mengerti bahwa seseorang bisa menjelajahi begitu banyak tempat, bertemu begitu banyak manusia, bahkan mencapai begitu banyak keberhasilan, tetapi tetap merasa tersesat bila kehilangan jalan kembali kepada asalnya.
Sebulan kemudian, surat tugas itu datang.
Lela diminta memimpin penelitian mengenai ketahanan masyarakat pesisir di Maluku Utara.
Ketika membaca lokasi penelitian, napasnya tertahan.
Galela.
Ia membaca nama itu berkali-kali, seolah takut huruf-hurufnya berubah menjadi nama tempat lain.
Seorang rekan kerja menepuk bahunya.









