Perempuan yang Dipinjam Laut

oleh -288 views

Ibunya memperhatikan semua itu sambil tersenyum.

“Kau sedang menunggu tamu?”

Samad menggeleng.

“Hanya merapikan rumah.”

Perempuan tua itu tertawa pelan.

“Orang yang sedang menunggu tidak pernah hanya merapikan rumah.”

“Lalu?”

“Mereka sedang merapikan hati.”

Samad tersenyum tipis.

Ia tidak membantah.

Tetapi ia juga tidak mengakuinya.

Di Jakarta, Lela mulai mengepak barang-barangnya.

Laptop.

Kamera.

Buku catatan lapangan.

Alat perekam.

Peta penelitian.

Semuanya masuk ke dalam koper dengan cepat.

Hanya satu benda yang lama berada di tangannya.

Kompas tua milik kakeknya.

Ia membuka tutupnya.

Jarum kecil itu berputar beberapa kali sebelum berhenti menunjuk utara.

Bertahun-tahun ia mengira benda itu hanyalah peninggalan keluarga.

Baca Juga  Iran Tegaskan Tak Akan Menyerah kepada AS, Siap Hadapi Perang Skala Penuh Jika Kesepakatan Dilanggar

Kini ia memahami bahwa yang diwariskan kepadanya bukan sekadar kompas.

Melainkan keyakinan bahwa setiap manusia harus mempunyai arah pulang.

Ia meletakkannya perlahan di dalam tas.

Bukan sebagai benda kenangan.

Melainkan sebagai teman perjalanan.

Pesawat mendarat di Ternate menjelang siang.

Dari balik jendela, Gunung Gamalama berdiri tenang di bawah langit yang bening.

Ketika pintu pesawat dibuka, udara lembap yang bercampur bau laut menyambut wajahnya.

Lela berhenti sejenak di anak tangga.

Ia menarik napas panjang.

No More Posts Available.

No more pages to load.