Perempuan yang Dipinjam Laut

oleh -271 views

Udara itu terasa begitu akrab.

Begitu lama tak dijumpainya.

Seorang rekan menoleh.

“Kamu menangis?”

Lela mengusap sudut matanya sambil tersenyum.

“Mungkin aku cuma terlalu lama tidak pulang.”

Perjalanan menuju Galela memakan waktu berjam-jam.

Jalan raya telah berubah.

Aspal kini membelah kampung-kampung yang dahulu hanya dihubungkan jalan tanah.

Beberapa rumah panggung telah berganti bangunan beton.

Warung-warung baru berdiri di pinggir jalan.

Menara telepon menjulang di antara pohon-pohon kelapa.

Namun laut tetap berada di tempatnya.

Begitu pula angin yang membawa bau garam.

Dan deretan pohon pala yang menggoyangkan ranting-rantingnya setiap kali kendaraan melintas.

Di setiap tikungan, kenangan berjalan lebih cepat daripada mobil yang ditumpanginya.

Baca Juga  BYD Seagull Terbaru Muncul di Dokumen MIIT, Dimensi Membesar dan Tenaga Naik Jadi 127 HP

Ia mengenali tanjakan tempat dahulu ayahnya mengajarinya bersepeda.

Tikungan tempat ia dan Samad pernah jatuh karena berlomba terlalu kencang.

Pantai kecil tempat mereka mencari kerang.

Semua kembali datang tanpa diminta.

Ketika mobil berhenti di depan rumah, ibunya telah berdiri di beranda.

Rambut perempuan itu kini seluruhnya memutih.

Tubuhnya tampak lebih kecil.

Tetapi senyumnya tetap sama.

Lela memeluknya lama sekali.

Tak ada kata-kata.

Ada pelukan yang terlalu penuh untuk diterjemahkan ke dalam bahasa.

No More Posts Available.

No more pages to load.