Perempuan yang Dipinjam Laut

oleh -276 views

Senja perlahan turun ke Teluk Galela.

Di kejauhan, perahu-perahu nelayan pulang satu demi satu.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Lela merasa dadanya kembali seluas laut yang membesarkannya.

Hari-hari berikutnya berlalu dengan tenang.

Setiap pagi Lela berangkat bersama tim peneliti menyusuri kampung-kampung pesisir. Mereka mewawancarai nelayan, mengukur perubahan garis pantai, memotret kawasan mangrove, dan mencatat cerita-cerita warga tentang laut yang perlahan berubah.

Sementara itu, setiap sore, setelah pekerjaan selesai, Lela berjalan bersama Samad.

Mereka menyusuri tempat-tempat yang pernah menjadi bagian dari masa kecil mereka.

Ada pantai yang kini mulai terkikis ombak.

Ada hutan bakau yang kembali rapat setelah bertahun-tahun dijaga warga.

Baca Juga  Tekuk Belgia 2-1, Spanyol Akhiri Penantian 16 Tahun ke Semifinal Piala Dunia

Ada rumah-rumah tua yang tinggal pondasi.

Ada pohon pala yang dahulu mereka panjat, kini batangnya begitu besar sehingga tak lagi mungkin dipeluk oleh dua orang.

“Aku sering berpikir kampung ini tidak pernah berubah,” kata Lela.

Samad menggeleng pelan.

“Kampung selalu berubah.”

“Lalu kenapa rasanya tetap sama?”

“Karena yang tinggal bukan bangunannya.”

Ia memandang laut.

“Melainkan ingatan kita.”

Kalimat itu mengendap di dalam diri Lela.

Ia sadar, selama ini ia mengira yang dirindukannya adalah sebuah tempat.

No More Posts Available.

No more pages to load.