Perempuan yang Dipinjam Laut

oleh -491 views

Padahal yang ia rindukan adalah dirinya sendiri—anak kecil yang pernah berlari tanpa alas kaki di pasir, yang percaya laut dapat mendengar bisikan manusia.

Suatu sore, Samad mengajaknya ke sebuah tanjung di sebelah utara teluk.

Di sana, angin datang lebih kencang.

Laut terbuka membentang hingga menyatu dengan langit.

“Dari arah sana,” kata Samad sambil menunjuk cakrawala, “dulu armada kora-kora Kesultanan Ternate melintas.”

Tangannya bergeser sedikit ke arah timur.

“Lebih jauh lagi, kapal-kapal dari Koromandel dan Gujarat.”

Lela mengikuti arah telunjuknya.

Selama ini ia membaca semua itu di dalam buku.

Kini ia berdiri di tempat yang pernah menjadi bagian dari kisah tersebut.

Baca Juga  Pelantikan Pengurus DPD Partai Golkar Maluku Ditunda, Anos Yermias: Tunggu Jadwal Resmi dari DPP

“Kampung kita ternyata tidak pernah kecil.”

Samad tersenyum.

“Bukan kampung yang kecil.”

“Lalu?”

“Sering kali cara kita memandangnya.”

Angin membawa bau garam dan pala yang mulai mengering di halaman-halaman rumah.

Untuk pertama kalinya Lela merasakan sejarah bukan lagi sesuatu yang tersimpan di perpustakaan.

Sejarah hidup di dalam ombak.

Di dalam nama-nama kampung.

Di dalam cerita para nelayan yang tak pernah masuk ke dalam buku pelajaran.

Malam terakhir sebelum penelitian selesai, warga mengadakan syukuran laut.

Tradisi itu telah berlangsung jauh sebelum Indonesia menjadi sebuah negara.

No More Posts Available.

No more pages to load.