Samad tetap melaut.
Tetap bercerita kepada anak-anak kampung setiap malam Jumat.
Kini sesekali Lela ikut duduk di antara mereka.
Ia membantu anak-anak membaca peta.
Samad mengajari mereka membaca bintang.
“Mana yang lebih penting?” tanya seorang anak.
Samad tersenyum.
“Peta atau bintang?”
Anak-anak mengangguk.
Samad menoleh kepada Lela.
Lela balas tersenyum, lalu menjawab lebih dulu.
“Peta memberitahu kita ke mana harus pergi.”
Samad melanjutkan,
“Tapi bintang mengingatkan kita ke mana harus kembali.”
Anak-anak itu tertawa, meski belum sepenuhnya mengerti.
Mungkin suatu hari nanti mereka akan memahaminya.
Sebagaimana Samad pernah memahami kalimat Kakek Mahmud bertahun-tahun sesudah pertama kali mendengarnya.
Malam turun perlahan di Teluk Galela.
Bintang-bintang menyala satu demi satu.
Angin membawa harum pala dari kebun-kebun di lereng bukit.
Di kejauhan, lampu-lampu perahu bergerak tenang di atas permukaan laut.
Lela berdiri di tepi pantai.
Di sampingnya Samad memandang cakrawala.
Tak ada lagi yang perlu mereka ucapkan.
Sebab beberapa perjalanan memang tidak berakhir ketika seseorang sampai di tujuan.
Perjalanan itu baru selesai ketika ia berdamai dengan dirinya sendiri.
Lela memejamkan mata.
Ia mendengar ombak datang, menyentuh pasir, lalu kembali ke laut.









