Tak seorang pun tahu bahwa beberapa tahun kemudian, angin yang sama akan membawa mereka ke arah yang berbeda.
Tahun terakhir SMA datang bersama musim panen pala.
Pada suatu siang, surat kelulusan dan pengumuman masuk perguruan tinggi tiba hampir bersamaan.
Lela diterima di sebuah universitas negeri di Yogyakarta.
Berita itu menyebar ke seluruh kampung lebih cepat daripada kabar perahu yang mendapat tangkapan besar.
Tetangga berdatangan.
Ibunya menangis sambil memeluknya.
Ayahnya menyembelih seekor kambing sebagai tanda syukur.
Malam harinya, halaman rumah dipenuhi orang-orang yang membawa nasi kuning, ikan bakar, dan doa-doa baik.
Hanya Samad yang lebih banyak diam.
Ia ikut tersenyum ketika orang-orang mengucapkan selamat kepada Lela.
Namun ada sesuatu yang perlahan tumbuh di dadanya—sesuatu yang belum mempunyai nama.
Sehari sebelum keberangkatan, mereka pergi ke pantai.
Bulan hampir bulat.
Air laut tenang.
Perahu-perahu nelayan berayun pelan di teluk.
Mereka duduk di batu karang yang sejak kecil menjadi tempat berbagi cerita.
“Aku takut,” kata Lela.
“Takut apa?”
“Takut pulang nanti semuanya sudah berubah.”
Samad mengambil sepotong ranting, lalu menggambar garis panjang di atas pasir.
Ombak datang, menghapusnya perlahan.










