Setahun pertama di Yogyakarta, surat-surat Lela datang hampir setiap bulan.
Ia masih menulis dengan tangan. Tinta biru memenuhi kertas bergaris yang dilipat rapi sebelum dimasukkan ke dalam amplop. Di sudut kanan atas selalu tertulis alamat kos yang berpindah-pindah, sementara isi suratnya hampir selalu dimulai dengan kalimat yang sama.
“Semoga laut sedang baik-baik saja.”
Samad membaca setiap surat hingga berulang-ulang.
Kadang di beranda rumah, kadang di atas perahu yang ditambatkan selepas melaut. Setelah itu surat-surat itu disimpan di dalam sebuah kotak kayu peninggalan ayahnya—kotak yang dahulu berisi kompas tua, mata kail, dan sepotong peta lusuh yang sudah tak lagi terbaca.
Dalam surat pertama, Lela bercerita tentang kota yang dipenuhi sepeda.
Tentang mahasiswa yang datang dari seluruh Indonesia.
Tentang perpustakaan yang lebih besar daripada lapangan bola di kampung mereka.
Namun di bagian akhir surat itu, ia menulis kalimat yang membuat Samad lama memandang laut.
“Orang-orang di sini ramah. Tetapi tak seorang pun tahu bagaimana bau pantai setelah hujan.”
Surat berikutnya datang sebulan kemudian.
“Aku mulai hafal jalan-jalan di kota ini. Tapi setiap Subuh aku masih terbangun karena merasa mendengar bunyi dayung para nelayan. Setelah kubuka jendela, ternyata hanya suara motor.”










