‘’Dan tanda IKN akan bermasalah juga sudah terlihat sejak awal. Kala itu terjadi peristiwa mundurnya para investor dari Jepang. Ini kemudian disusul tidak datangnya investor dari Singapura dan Timur Tengah seperti yang dijanjikan Jokowi yang katanya ratusan perusahaan itu,’’ imbuhnya.
Yang paling ironis, lanjut Isti, adalah ketika sekarang kemudian diketahu para supplier pembangunan IKN yang belum dapat pembayaran. Ini jelas sangat mengkhawatirkan. ’Lagi-lagi karena IKN dibangun di tengah hutan dan kemudian dipaksa dikebut agar pembangunnya segera diselesaikan. Apakah mungkin? Sebab, di mana membangun ibu kota itu selama puluhan tahun.”
‘’Masak Presiden Indonesia masa kini kalah kelas dengan Gubernur Jendral Hindia Belanda Daendels. Dahulu dia sangat seksama memperhitungkan lokasi pusat pemeritahan kolonial kala itu dari kawasan sekitar pesisir pelabuhan Sunda Kalapa ke arah wilayah Selatan Jakarta, yakni ke Weltevreeden (Jakarta Pusat/Menteng). Dia berhitung betul dan melalui tahapan eksekusi proyek yang jelas. Masa kini di IKN, gedung dan istana telah dibangun padahal kala itu air bersih belum tersedia. Ini koyol kan? Daendels beda, sebelum bangun kawasan Menteng misalnya, dia lakukan pengeboran air di 60 titik. Baru setelah tersedia, mulai dibangun gedung dan perumahan,’’ tandas Isti Nugroho. (red/kba)









