“Lain kali kau harus dengar nasihat ibumu ya!” Ujarnya. Aku mengangguk. Ya memang saat itu aku sedang bandel. Ngeyel. Tidak mematuhi perkataan Ibu dan sekarang aku menyesal.
“Ini semua karena Ayahku. Ayahku yang tidak taat prokes, suka berkeliaran di tengah wabah seperti ini dan membawa virus kepada keluarganya. Kata Ayahku virus itu hanya bualan pemerintah dan tidak seberbahaya kelihatannya. Tapi akhirnya, Ayahku dinyatakan terkena covid-19, Awalnya ayahku tidak mau diperiksa, dibawa ke rumah sakit, apapun tidak mau karena ia tak percaya virus itu. Ia pikir ia hanya demam biasa. Namun, kondisi Ayah semakin buruk, Om ku membawanya segera ke rumah sakit. Tapi terlambat. Ayahku meninggal karena sesak nafas yang parah saat di perjalanan,” Zanira bercerita dengan wajah sedih.
“Maaf zanira. A-aku tak tahu akan hal itu,” Aku merasa bersalah padanya karena membuat ia bercerita dan teringat lagi.
“Tak apa Hana. Bukan salahmu kok!” Jawabnya tenang.
Akhirnya aku dan Zanira mengobrol lebih dalam dan tidak membicarakan hal-hal sedih. Kami mengobrol tentang hobi, sekolah kami, sampai makanan kesukaan!
“Aku suka opor ayam, apalagi buatan Nenekku,” Ujar Zanira. Aku mengangguk. Aku juga suka opor ayam.
“Ngomong-ngomong soal makananan, sekarang sudah jam makan siang. Aku harus kembali ke kamarku, dadah!” Zanira beranjak dari kursi taman dan melambaikan tangan padaku.
“Besok pagi kita bertemu lagi ya, jam 7!” Pintaku padanya, aku ingin mengajak dia jalan jalan keliling taman sambil senam bersama, Kedengarannya seru!
“Oke siap bos,” Jawab Zanira. Kami berdua pun tertawa. Ku kembali ke kamar dengan riang. Yes, aku punya teman disini!











