Politik Figur dan Demokrasi yang Tak Pernah Dewasa

oleh -144 views

Karena itu, ukuran untuk memilih seorang presiden semestinya juga berbeda. Bukan sekadar pemimpin yang dekat dengan rakyat, melainkan seorang negarawan yang memiliki keluasan wawasan, kedalaman berpikir, visi jangka panjang, dan kemampuan menempatkan Indonesia dalam percaturan dunia yang terus berubah. Popularitas dapat mengantarkan seseorang menuju panggung kekuasaan, tetapi hanya kapasitaslah yang mampu menjaga sebuah bangsa tetap berdiri tegak di tengah badai zaman.

Persoalan terbesar demokrasi Indonesia sesungguhnya bukan sekadar siapa yang akan menjadi presiden berikutnya. Persoalannya jauh lebih mendasar: sudahkah kita memiliki budaya politik yang menilai pemimpin berdasarkan kualitas kepemimpinannya, atau kita masih lebih mudah terpesona oleh kedekatan emosional, identitas, dan citra yang dibangun di ruang publik?

Baca Juga  Polemik Tarif Kapal Cepat dan Isu Monopoli Mencuat, Anos Yeremias: Lihat Persoalan Secara Utuh

Dalam setiap pemilihan, kita masih sering menyaksikan pilihan politik yang dipengaruhi oleh kesamaan suku, daerah asal, kedekatan emosional, atau popularitas yang dibentuk melalui media. Semua itu adalah bagian yang wajar dari dinamika demokrasi. Namun, persoalannya muncul ketika pertimbangan-pertimbangan tersebut mengalahkan penilaian terhadap visi, kapasitas, integritas, dan kemampuan seorang calon menghadapi persoalan bangsa yang jauh lebih kompleks.

No More Posts Available.

No more pages to load.