Dalam konteks pemasaran politik, strategi ini mencerminkan bagaimana politisi menjadikan diri mereka sebagai produk yang dijual kepada pemilih.
Mungkin teori-teori psikologi politik memberikan justifikasi bahwa ini adalah cara yang sangat efektif untuk memengaruhi persepsi dan keputusan pemilih, terutama dalam masyarakat yang lebih cenderung pada “pencitraan” daripada “pendalaman substansi”.
Baliho dan pelbagai atribut kampanye yang digunakan mungkin dianggap sebagai salah satu cara menjadikan kandidat tersebut familiar dengan publik.
Hal itu senada dengan teori efek ekposur berulang (mere-exposure effect) yang dikenalkan oleh seorang psikolog asal Polandia, Robert Zajonc.
Efek ekposur berulang adalah fenomena psikologis di mana orang cenderung mengembangkan preferensi untuk sesuatu hanya karena mereka sering dipapari hal tersebut.
Dalam konteks politik, ini berarti calon kepala daerah yang sering terlihat di baliho cenderung lebih disukai oleh masyarakat, terlepas dari kualitas atau kapabilitas mereka yang sebenarnya.
Baliho yang tersebar luas dan sering terlihat oleh masyarakat bisa saja meningkatkan familiaritas calon, namun tidak memberikan informasi mendalam tentang visi, misi, atau kinerja yang sudah atau akan dilakukan.









