Postscriptum Branding Ternate: Ketika Kota Rempah Harus Berbuah

oleh -90 views

Ia hadir dalam bagaimana pemerintah menyusun kebijakan pertanian. Dalam bagaimana UMKM mengembangkan produk. Dalam bagaimana hotel dan restoran menyajikan pengalaman kuliner. Dalam bagaimana sekolah mengenalkan sejarah rempah. Dalam bagaimana ruang kota dirancang. Dalam bagaimana petani memperoleh nilai tambah. Dalam bagaimana hutan dilindungi. Bahkan dalam bagaimana secangkir kopi disajikan.

Pertanyaan sederhana, misalnya: berapa banyak kafe di Ternate yang secara serius menghadirkan kopi rempah sebagai produk khas kota?

Pertanyaan itu mungkin tampak remeh.

Tetapi justru dari hal-hal kecil semacam itulah sebuah branding diuji.

Sebab identitas kota tidak hanya hidup di kantor pemerintah. Ia hidup di pasar, pelabuhan, kebun, restoran, kedai kopi, ruang publik, sekolah, kampus, komunitas, dan rumah-rumah warga.

Baca Juga  Kejari Malra Limpahkan Dua Tersangka Pembunuhan Nus Kei, Segera Disidangkan di PN Ambon

Rempah Harus Berbuah

Ternate telah memiliki sejarah. Ia memiliki rempah. Ia memiliki laut, gunung, kebudayaan, dan ingatan kolektif yang tidak dimiliki banyak kota.

Yang belum cukup adalah bagaimana semua modal itu dirajut menjadi ekosistem pembangunan.

Karena itu, pekerjaan terbesar pemerintah kota bukan lagi meyakinkan publik bahwa Ternate adalah Kota Rempah. Pekerjaan yang lebih sulit adalah membuktikan bahwa menjadi Kota Rempah membuat Ternate menjadi kota yang lebih baik.

No More Posts Available.

No more pages to load.