Oleh: Ahmad Humam Hamid, Sosiolong, Guru Besar USK Banda Aceh
Di Aceh, menjelang Idul Fitri 1447 H/2026, kehidupan sehari-hari masih berdenyut di antara dua dunia: dunia yang hancur karena banjir dan longsor, serta dunia tradisi, iman, dan harapan yang tetap hidup. Rumah-rumah yang dulu bersih kini tertutup lumpur; sawah yang subur menyisakan jejak kehancuran; jalan dan jembatan yang menghubungkan kampung-kampung berubah menjadi rintangan fisik bagi setiap langkah. Air minum bersih terbatas, fasilitas pendidikan dan kesehatan sebagian besar rusak, dan sumber penghidupan masyarakat menipis atau bahkan lenyap.
Di tengah kondisi regresif ini, kehadiran negara terasa melalui figur-figur penting seperti Muzakir Manaf, Prabowo Subianto, dan Muhammad Tito Karnavian. Permintaan daging meugang, kehadiran pejabat pusat sepanjang Ramadan, hingga kunjungan Presiden saat Idul Fitri membentuk rangkaian simbol yang menunjukkan bahwa negara tidak sepenuhnya absen.
Permintaan Gubernur Mualem agar Presiden menyediakan sapi untuk meugang sempat memunculkan pertanyaan: mengapa bukan proyek rehabilitasi besar yang ditonjolkan? Namun justru di situlah kecerdasan politik bekerja. Dalam situasi pascabencana, masyarakat tidak hanya membutuhkan kebijakan, tetapi juga pengakuan emosional. Meugang bukan sekadar konsumsi daging; ia adalah ritual sosial yang mengikat martabat dan harapan.










