Segera setelah pimpinan Spanyol membuang Sultan Ternate ke Filipina, Tidore memperoleh kesempatan untuk sekali lagi menjarahi negeri Moro. Penduduk Moro masih juga diserang dari pedalaman. Di Tolo misalnya, penduduk Samafo dan Cawa mengungsi untuk menyelamatkan diri dari serangan orang-orang Tobelo dan Galela yang bermukim 8 mil di pedalaman. Hal ini memaksa Spanyol untuk menempatkan pasukan guna melindungi “penduduk yang bersahabat dari serangan orang Tobelo dan Galela”.
Mereka kemudian ditarik kembali untuk mempertahankan Tidore dari serangan pasukan gabungan Belanda dan Ternate. Seorang misionaris bernama Simi membujuk penduduk Tolo untuk mengungsi ke Morotai tetapi mereka memilih berangkat ke Bicoli. Sementara berkemah di pantai Bicoli, mereka ditangkap oleh pasukan Ternate. Tolo dimusnahkan sama sekali. Tahun 1617 dikabarkan tempat tersebut diliputi hutan dan tidak menunjukkan tanda-tanda pernah dihuni.
Ketakutan menghadapi nasib yang sama, penduduk Moro di pulau Morotai bersekutu dengan Ternate tetapi tidak ada faedahnya. Sesudah pasukan Spanyol ditarik, di bawah pimpinan Sultan Mudaffar (1610-1627), sejumlah orang Moro dari Mamuya, Samafo, Kioma dan Tolo dievakuasi ke Ternate. Pada 1628, Sultan Hamzah dari Ternate juga memutuskan membawa sejumlah 800 orang Moro ke Ternate untuk memperkuat angkatan perangnya. Sementara pada 1686, sejumlah orang Moro yang berasal dari Morotia, Cio, Sopi, Sakita dan Mira dipindahkan ke Jailolo dan Dodinga.









