Dari Mamuya, prajurit Katarabumi meneruskan serangannya ke Tolo, pusat misi Jesuit di kerajaan Moro, tetapi di Tolo Katarabumi mendapat perlawanan kuat. Para prajurit Moro yang berjumlah 30.000 dengan bantuan tentara Portugis yang ditempatkan di situ berhasil menahan serangan Katarabumi dan baru menyerah sebulan kemudian.
Ketika penyerangan di Tolo, terdapat 36 prjurit Moro di Tolo yang berhasil meloloskan diri ke Ternate dan melaporkan situasinya pada Gubernur. Pasukan Portugis dan dibantu oleh prajurit Moro dalam jumlah besar kemudian dikerahkan menyerang sebuah kampung di Galela dan Pune. Dalam penyerbuan itu, pasukan Portugis membakar habis kedua wilayah tersebut, meskipun Pune adalah pemukiman kristen. Setelah itu, pasukan Portugis menduduki Tolo serta mengusir Katarabumi dan pasukannya kembali ke Jailolo (Amal 2006:34).
Peyerangan Katarabumi saat itu tidak diketahui oleh Gubernur Ternate De Freitas, penyerbuan itu baru diketahui pada 20 Maret 1543. Tapi pada tahun berikutnya, penduduk Moro di Tolo dan Mamuya menderita terutama oleh serangan Tobaru, dan penduduk Moro di Morotai karena serangan Jailolo.
Ketika Sultan Khairun dibunuh pada 28 Februari 1570, oleh Martin Alfonso Pimenta, maka misi Jesuit di Moro mulai redup. Orang-orang Moro yang bermukmim di Ternate dan sudah menjadi pengabdi di masa Sultan Khairun dijadikan prajurit oleh Sultan Babullah, bahkan dalam penyerangan ke Moro, Babullah mampu mengerahkan 90.7000 tentara bila diperlukan.








