Prajurit Kerajaan Morotia

oleh -17 views

Oleh: Muhammmad Diadi, Penulis, Pelaku Budaya Galela

PADA abad ke-15 ketika Portugis datang ke Moloku Kie Raha (Maluku Utara), mereka menemukan bahwa pantai timur Halmahera, yang disebut Morotia, dan pulau Morotai dihuni oleh orang-orang yang dikenal sebagai “Orang Moro”.

Nama Halmahera menurut sumber-sumber Portugis adalah Batucina de Moro, atau Batu Cina yang merujuk pada kerajaan tua di Halmahera Utara yang masih eksis hingga abad ke-17 (Amal 2006:27).

Dalam fersi Kesultanan Bacan Kerajaan ini dinamakan Botang Ra (Halmahera) letaknya di Halmahera bagian Utara yang saat itu menjadi ekspansi Sultan pertama Bacan Muhammad Baqir.

Kerajaan ini tidak diketahui kapan berdirinya dan siapa pendirinya, namun menurut Prof.. A.B.Lapian, dalam satu tulisannya paling akhir tentang kerajaan Bacan, kerajaan Moro sama tuanya dengan kerajaan Loloda dan kerajaan Jailolo. Namun menurut pemerhati sejarah lokal Abdul Hamid Hasan (2001) mengungkapkan bahwa secara umum Kerajaan-kerajaan Maluku termasuk kerajaan Loloda dan Moro berdiri pada abad ke-13. Bahkan disebutkan juga bahwa dua kerajaan ini adalah yang tertua di Halmahera.

Secara umum kerajaan Moro juga memiliki prajurit kerajaan demi mempertahankan kerajaannya serta memperluas ekspansi wilayahnya namun dalam catatan-catatan dokumen sejarah bangsa asing tidak begitu banyak membahas kerajaan ini serta ekspansi kerajaan ini kewilayah lain.

Jasmin Rainu S, dalam bukunya tentang Kamus Bahasa Indonesia-Galela pada halaman 59 mengatakan: Bahwa ekspansi wilayah kekuasaan kerajaan Moro hingga ke Filipina selatan dan kerajaan Moro tidak tunduk atau di bawah kekuasaan kerajaan Moloku Kie Raha (Jailolo, Ternate, Tidore, dan Bacan). Meskipun demikian, antara kerajaan Moro dan Kerajaan Di Moloku Kie Raha tidak pernah bermusuhan.

Namun ketika masa pemerintahan Sultan Tabariji (1533-1535), terjadilah ekspansi kekuasaan ke wilayah Moro sehingga rakyat Moro harus menderita akibat penyerangan oleh Prajurit Ternate. Munkin dalam kurung waktu ini kerajaan Moro mempersiapkan prajurit kerajaannya agar lebih siap untuk melawan musuh yang sewaktu-waktu datang menyerang.

Ketika Gubernur Portugis Tristao de Ataide (1534-1537) tiba di Ternate untuk mengantikan Gubernur Portugis Vincente da Fonceca (1532-1534), bersama seorang Pastor Frater Simon Vas dan para Misionarisnya yang nantinya menyebarkan misi Katolik di Mamuya Ibukota Moro.

Tahun 1534, Tristao de Ataide dilantik sebagai Gubernur Portugis di Maluku. Selagi menjabat, ia melakukan banyak tindakan keji dan tiranik terhadap para bangsawan dan rakyat Maluku, terutama di Ternate dan Jailolo. Karena hal ini, Jailolo melepaskan diri dari penguasaan Ternate dan Portugis, kemudian lebih mendekatkan diri dengan Tidore dan Spanyol.

Di tahun itu juga (1534), Sultan Tabariji ditangkap dan dikirim ke Goa Portugis di India barat untuk diadili karena dituduh berkhianat oleh de Ataide. Di Goa, ia dipaksa menandatangani perjanjian dengan gubernur Portugis untuk menyerahkan kekuasaan Ternate di Maluku Tengah (Buru, Huamual, Hitu, dan Seram Barat) kepada Portugal. Sang Sultan kemudian juga bersedia untuk dibaptis menjadi seorang katolik dengan nama ‘Don Manuel Tabariji’.

Orang Moro selalu diserang oleh suku tetangganya yaitu Galela,Tobelo dan Tobaru, orang Moro banyak membangun perkampungan di pesisir pantai.
Pada tahun 1556, ada 46 atau 47 perkampungan Moro, yang masing-masing kampung berpenduduk sekitar 700 sampai 800 penduduk. Di jazirah utara perkampungan Moro ditemukan dari Tanjung Bisoa di utara sampai Cawa di selatan dekat kota Tobelo sekarang ini. Pulau Morotai dan pulau Rau yang lebih kecil dihuni secara eksklusif oleh orang Moro. Pada tahun 1588 ada sekitar 29 permukiman di sana. Jumlah yang sama dilaporkan pada pada tahun 1608.

Populasi orang Moro sangat besar dibandingkan dengan suku-suku di dekatnya, bahkan jika kita membaca perhitungan dari misionaris Portugis dengan kritis. Pertengahan abad ke 16, menurut perkiraan yang paling konservatif orang Moro berjumlah sekurang-kurangnya 20.000 orang. Jumlah populasi yang signifikan ini adalah bukti dari kenyataan bahwa, setelah orang Moro menghilang pada pertengahan abad ke-17, jumlah populasi penduduk yang tersisa di Halmahera berkurang sangat drastis.

Ketika para pengikut Sultan Tabariji yang berada di Galela yang beragama Islam, sering menyerang perkampungan Moro begitu pula orang orang Tobelo dan Tobaru, membuat Raja Tioliza mengambil tindakan pencegahan, seorang pedagang Portugis yang berada di Mamuya saat itu menasihati Raja Moro untuk beralih ke agama katolik pada 1534, agar bisa mendapat perlindungan dari tentara Portugis.

Ketika Kerajaan Moro di bawah perlindungan Portugis, Sultan Tabariji sekali lagi memimpin orang-orang Galela yang beragama Islam untuk menyerang perkampuangan Moro di Mamuya. Akibatnya banyak korban berjatuhan di pihak rakyat Moro.

Ketika misi penyerangan itu didengar oleh Gubernur Tristao de Ataide, Sultan Tabariji diturunkan secara paksa dari tahtanya atas tuduhan penghianatan serta penyerangan terhadap rakyat Moro yang baru saja memeluk agama katolik serta diasingkan di Goa (India).

Gubernur Tristao de Ataide akhirnya mempererat hubungannya dengan Kerajaan Moro dan mendapat simpati dari Raja Moro berserta rakyatnya, hingga setiap misi Jesuit yang dilakukan oleh para misioner Portugis di bantu oleh kerajaan Moro berupa perahu, bahan makanan hingga tenaga pendayung yang sering dikerahkan selama misi Jesuit di Ternate dan Moro.

Tampaknya orang-orang Moro juga berpartisipasi dalam ekspedisi militer Ternate. Sekitar 5000 sampai 6000 penduduk Moro di Mamuya dan Tolo dikabarkan mengambil bagian dalam pasukan Ternate yang membantu Gubernur Portugis Tristao de Ataide untuk menaklukkan Jailolo dan mengalahkan pasukan Spanyol pada tahun 1533.

Portugis kemudian membangun benteng pertahanan yang kuat di Mamuya. Hal ini kemudian memulai gangguan bagi “tributary relationship” antara Moro dan Ternate, karena setelah itu para penduduk Moro “menolak untuk memberikan suplay makanan” bagi Ternate.

Dalam suratnya, kepada Raja Muda Portugis di Goa, Tristao de Ataide menulis: Dengan bantuan orang-orang kristen Moro, saya berani menjadikan Maluku sebagai Portugis baru. Saya telah melihat dengan mata hati saya, bahwa tidak sukar berbuat seperti yang telah saya gambarkan di atas tanpa perlu biaya sepeserpun dari kerajaan (Amal 2006:80).

Ketika Sultan Tabariji diasingkan ke Goa (India), Tabariji di ganti dengan saudara tirinya Sultan Khairun Jamil (1535-1570), secara bijak dan arif, ia memilihara hubungan baik dengan umat kristen Moro serta misi Jesuit yang beroperasi di Ternate dan Moro, bahkan Khairun pernah berkata kepada Xaverius atas keinginannya agar salah seorang putranya untuk dipersiapkan menjadi Raja Kerajaan Moro (Amal 2006:79).

Pada masa Sultan Khairun, wilayah Moro di bagi-bagi oleh beberapa Kerajaan di Maluku. Ini bisa dilihat, pada tahun 1536 dilaporkan bahwa “Raja-raja Maluku memiliki sebuah negeri yang dibagi-bagi di antara mereka raja-raja itu tidak memiliki persediaan atau hasil alam untuk menopang kerajaan mereka kecuali yang mereka datangkan dari Moro di mana ada banyak beras dan sagu, daging dan ayam, orang-orang Moro adalah hamba (escravos) dari raja-raja ini”. Dalam pembagian wilayah Moro, Ternate mendapatan bagian terbesar.

Namun akibat berkembangnya misi Jesuit di Moro, menimbulkan kekhawatiran Sultan Khairun, akhirnya Khairun mengadakan pertemuan raja-raja Maluku untuk membahas perkembangan kristenisasi di Moro. Dengan suara bulat para sultan memutuskan “Menyetop laju evangelisasi dan mengeyahkan orang-orang Portugis dari Moro dan Maluku”. Pertemuan itu, Katarabumi berambisi untuk menguasai Moro dan melakukan peyerangan ke wilayah tersebut. Pada 1536, Katarabumi penguasa Jailolo dan pasukannya, didukung oleh persekutuan dengan Ternate, Tidore dan Bacan yang besar menuju Moro.

Kampung Sugala di pesisir Utara Morotia diserang, Katarabumi melanjutkan ke Tutumaloleo, Lalonga, Pune kemudian mengepung Mamuya, Ibukota Kerajaan Moro. Setelah di Mamuya, prajurit Katarabumi menghadapi perlawanan kuat dari prajurit Kerajaan Moro sehingga Katarabumi memutuskan untuk mengepung Mamuya selama seminggu, Katarabumi memberi waktu 24 jam kepada Raja Moro Tioliza agar menyerah beserta orang-orang Portugis yang selama ini mengawal Raja Moro.

Dari Mamuya, prajurit Katarabumi meneruskan serangannya ke Tolo, pusat misi Jesuit di kerajaan Moro, tetapi di Tolo Katarabumi mendapat perlawanan kuat. Para prajurit Moro yang berjumlah 30.000 dengan bantuan tentara Portugis yang ditempatkan di situ berhasil menahan serangan Katarabumi dan baru menyerah sebulan kemudian.

Ketika penyerangan di Tolo, terdapat 36 prjurit Moro di Tolo yang berhasil meloloskan diri ke Ternate dan melaporkan situasinya pada Gubernur. Pasukan Portugis dan dibantu oleh prajurit Moro dalam jumlah besar kemudian dikerahkan menyerang sebuah kampung di Galela dan Pune. Dalam penyerbuan itu, pasukan Portugis membakar habis kedua wilayah tersebut, meskipun Pune adalah pemukiman kristen. Setelah itu, pasukan Portugis menduduki Tolo serta mengusir Katarabumi dan pasukannya kembali ke Jailolo (Amal 2006:34).

Peyerangan Katarabumi saat itu tidak diketahui oleh Gubernur Ternate De Freitas, penyerbuan itu baru diketahui pada 20 Maret 1543. Tapi pada tahun berikutnya, penduduk Moro di Tolo dan Mamuya menderita terutama oleh serangan Tobaru, dan penduduk Moro di Morotai karena serangan Jailolo.

Ketika Sultan Khairun dibunuh pada 28 Februari 1570, oleh Martin Alfonso Pimenta, maka misi Jesuit di Moro mulai redup. Orang-orang Moro yang bermukmim di Ternate dan sudah menjadi pengabdi di masa Sultan Khairun dijadikan prajurit oleh Sultan Babullah, bahkan dalam penyerangan ke Moro, Babullah mampu mengerahkan 90.7000 tentara bila diperlukan.

Kontributor terbesar pasukan Baab di atas 10.000 pasukan adalah Veranullah dan Ambon (15.000 tentara), Teluk Tomini (12.000 tentara), Batucina de Moro dan sekitar Halmahera Utara (10.000 tentara), Gorontalo dan Limboto (11.000 tentara), serta Yafera (10.000 tentara). Penyumbang pasukan terkecil adalah Moti dan Hiri, masing-masing 300 tentara (Amal 2006:57). Pada perempatan terakhir abad ke-16, Babullah menggabungkan Kerajaan Moro ke dalam wilayah kekuasaan Ternate.

Ketika Sultan Saidi berkuasa di Ternate (1584-1606), penduduk Bisoa, Galela, Tolo, Cawa dan Samafo, mengirim perutusannya dengan iringan musik dan isyarat perdamaian. Mereka meminta Sultan Ternate agar diperkenankan kembali ke agama katolik. Tidak jelas bagimana akhir dari permintaan tersebut.

Tetapi pada 27 November 1606, Ternate menandatangani sebuah perjanjian dengan Spanyol, yang antara lain menetapkan bahwa Ternate akan mengembalikan bekas budak Protugis dan Spanyol yang telah beralih ke agama Islam, dan tidak akan memaksakan orang Kristen masuk Islam, termasuk para budak. Perjanjian ini bertalian dengan masalah orang-orang Moro.

Pada tahun 1606, ketika Belanda telah mengusir Portugis dari Tidore, sebuah armada Spanyol mendekati Ternate yang disambut dengan tembakan dari sebuah kapal Belanda dengan bantuan Tidore, Spanyol merebut Ternate.

Segera setelah pimpinan Spanyol membuang Sultan Ternate ke Filipina, Tidore memperoleh kesempatan untuk sekali lagi menjarahi negeri Moro. Penduduk Moro masih juga diserang dari pedalaman. Di Tolo misalnya, penduduk Samafo dan Cawa mengungsi untuk menyelamatkan diri dari serangan orang-orang Tobelo dan Galela yang bermukim 8 mil di pedalaman. Hal ini memaksa Spanyol untuk menempatkan pasukan guna melindungi “penduduk yang bersahabat dari serangan orang Tobelo dan Galela”.

Mereka kemudian ditarik kembali untuk mempertahankan Tidore dari serangan pasukan gabungan Belanda dan Ternate. Seorang misionaris bernama Simi membujuk penduduk Tolo untuk mengungsi ke Morotai tetapi mereka memilih berangkat ke Bicoli. Sementara berkemah di pantai Bicoli, mereka ditangkap oleh pasukan Ternate. Tolo dimusnahkan sama sekali. Tahun 1617 dikabarkan tempat tersebut diliputi hutan dan tidak menunjukkan tanda-tanda pernah dihuni.

Ketakutan menghadapi nasib yang sama, penduduk Moro di pulau Morotai bersekutu dengan Ternate tetapi tidak ada faedahnya. Sesudah pasukan Spanyol ditarik, di bawah pimpinan Sultan Mudaffar (1610-1627), sejumlah orang Moro dari Mamuya, Samafo, Kioma dan Tolo dievakuasi ke Ternate. Pada 1628, Sultan Hamzah dari Ternate juga memutuskan membawa sejumlah 800 orang Moro ke Ternate untuk memperkuat angkatan perangnya. Sementara pada 1686, sejumlah orang Moro yang berasal dari Morotia, Cio, Sopi, Sakita dan Mira dipindahkan ke Jailolo dan Dodinga.

Orang-orang Moro yang dievakuasi didiizinkan memiliki sangaji sendiri yang akan mengurus pemerintahan dan pemukimannya, dan sebagiannya dibawa ke Ternate dijadikan sebagai budak. Sebelumnya, sebagian penduduk yang dipindahkan ke Tidore “di mana putra mahkota Tidore telah melakukan serangan besar-besaran dan memperoleh banyak tawanan, laki-laki, perempuan dan anak-anak, dan menjadikan mereka budak Tidore (Amal 2006:216-217).
Kemudian tak ada lagi catatan sejarah tentang Moro.

Sekian ulasan sejarah tentang prajurit kerajaan Morotia di atas baik yang saya kutip dari berbagai sumber buku dan Internet semoga menambah khazanah pengetahuan serta bermanfaat terhadap pembaca untuk lebih mengenal sejarah Maluku Utara lebih khususnya Galela.

Meskipun ulasan sejarah di atas tidak sempurna dan masih banyak kekurangan yang perlu saya perbaiki. Hal ini dikarenakan masih minimnya pengetahuan saya tentang disiplin ilmu sejarah serta referensi yang didapat. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun dari para pembaca sangat saya harapkan sebagai bahan evaluasi untuk kedepannya. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.