Perutku geli mendengar ucapannya. Orang ini seperti burung hantu yang tak bisa disangkar, dan seperti anjing kecil yang melindungi majikannya. Aku iri dengan pria ini, bagaimanakah rasanya mendebat sesuatu dengan lantang, memaki jika kesal, dan pulang ke rumah jika kesepian.
“Kau pendengar yang baik kawan,” ucapnya sambil tersenyum lebar, menyadarkanku atas sesuatu.
Apa kau tidak merasa kita terlalu berbeda?
“Aku merasa, namun apalah artinya, setiap manusia dilahirkan berbeda agar tidak salah panggil nama, “
Sialan orang ini, pintar sekali membuat kelakar, membuatku tertawa sangat lepas. Darinya aku tahu bahwa dunia ini penuh perbedaan. Keberagaman yang berdampingan membuatnya menjadi indah, dan keberagaman yang saling menonjolkan akan menjadi kesengsaraan. Aku berharap pria ini akan kembali setelah tersandung batu ratusan kali, dan aku bisa tetap hidup dalam kesunyian yang Tuhan ciptakan, menunggu seekor merpati masuk ke rumahku sembari berkicau tanpa henti. (*)










