Puisi-Puisi Ishak Boufakar

oleh -207 views
Link Banner

Janji Politikus

di simpang
beratus pasak baliho
bersekongkol
jalan jadi pusara:

tempat politikus timbun janji
kemudian dirinya
terkubur di antara ilalang
dan kamboja.

perihal janji adalah ilusi
menjelma baju ziarah yang
kupakai saat kurapal doa paling
sial.

Bula, 2017
==========

Link Banner

Epos Pattimura

Bertahun-tahun matahari terbenam
di dalam saku seorang Residen
yang semena-mena menoreh luka
seluas langit (Van den Berg, hatinya
batu, tiada guna sekeping airmata.

Hingga tiba suatu hari, datang seorang
lelaki berkilat-kilat sekekar pohon sagu.
Lelaki itu membawa duri daun rumbia
menjahit luka-luka. Mengusap airmata.

(I)

15 Mei 1817
Di Dermaga Porto
di antara buritan dan tiang layar
aku melihat jilat api menjalar
dari bola mata seorang kapitan
seketika itu dermaga menjelma bara.

Baca Juga  Wakil Gubernur Malut Hadiri Rakorwasdanas 2019 di Solo

Inilah perang paling api
Inilah laga paling lahar

Dan kini penderitaan adalah arang
berkeping-keping di jalan
menyelinap dalam selimut
membangunkan orang-orang
yang terlelap menakar siasat
meracik seratus suluh perlawanan.

Inilah jalan cahaya
Inilah padang oase:
di sini tumbuh atau
gugur bunga bangsa.

Di Dermaga Porto
di antara buritan dan tiang layar
aku melihat seorang suluk
menyulut unggun. Terang
benderang.

(2019)

========

16 Desember 1817

Di Benteng Victoria
di antara amis darah
dan asin airmata
aku melihat Isa di bola mata
seorang Kapitan tercekik
di tiang pancung.

“Wahai Patimura muda
jagalah hidup dengan
darah sekalipun berdarah-
darah,” kata Kapitan itu
terakhir kalinya.

Baca Juga  Sri Mulyani Suruh CPNS yang Tak Mau Jadi Alat NKRI Angkat Kaki

Di Benteng Victoria
di antara amis darah
dan asin airmata
aku melihat satu kematian
inang bagi seribu kelahiran.

(2019)

=======

Bulan Juli – November 1817

Di Benteng Duurstede
di antara batu berlumut dan
bedil setegak pohon
aku melihat sepasang kekasih
berpelukan, tubuh mereka
pucat rembulan
dicekik maut.

Kenapa kau menangis?

Maut tidak boleh ditangisi.
Memang begitu adanya,
ia datang tanpa mengetuk-
ngetuk pintu. Kita harus siap.
Tidak ada kompromi.

Sesudah ini kau harus percaya
bahwa perundingan hanyalah tipu
muslihat, kata-kata omong kosong
serupa konsensus. Dan tidak selalu
ditepati, kata si lelaki.

Di Benteng Duurstede
di antara batu seluas peti dan
bedil setegak kamboja
aku melihat si gadis memeluk
kesedihan. Tubuhnya
debu, hanya debu.

Baca Juga  Peneliti LIPI: Persoalan Indonesia Bukan Radikalisme Tapi Ketimpangan Sosial

2019

=======

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *