Porostimur.com, Maba – Sebanyak 23 kepala keluarga Suku Togutil yang mendiami Pegunungan Mobulan, Desa Dorosago, Kecamatan Maba Utara, Halmahera Timur, hidup dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.
Selama puluhan tahun, mereka nyaris tak tersentuh pembangunan, baik oleh Pemerintah Kabupaten Halmahera Timur maupun Pemerintah Provinsi Maluku Utara.
Tim Persekutuan Doa Pascasarjana Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, yang terdiri dari enam orang, baru saja menyelesaikan misi penginjilan selama tiga hari dua malam bersama komunitas ini.
Fakta-fakta yang mereka temukan di lapangan mengungkap realitas pahit yang selama ini tersembunyi di balik keheningan hutan Halmahera.
“Di sini kita tidak bicara soal rasisme. Kita bicara soal ekonomi, hak politik, dan hak administratif. Transmigran dari Jawa diberi rumah, lahan dua hektare, biaya hidup dua tahun. Tapi anak negeri ini? Mereka tidak dikasih apa-apa,” tegas Ketua Tim, Pdt. Ricky Tafuama, Jumat (25/7/2025).
Hidup di Rumah 2×2 Meter, Tanpa Air Bersih dan Pendidikan
Menurut Pdt. Ricky, kehidupan Suku Togutil sangat tidak layak. Rumah-rumah mereka hanya berukuran 2×2 meter dan dihuni hingga 11 orang dalam satu ruangan.
Tidak ada air bersih, tidak ada layanan kesehatan, dan tidak ada akses pendidikan. Tingkat buta huruf sangat tinggi dan penyakit umum kerap menjangkiti mereka tanpa penanganan medis.









