Restoratif Justice Akhiri Polemik Pemukulan Warga Terhadap Anggota Polisi Oleh Kejari SBB

oleh -131 views
Link Banner

Porostimur.com | Piru: Langkah Restoratif Justice diambil oleh pihak Kejaksaan Negeri Seram Bagian Barat dan Polres Seram Bagian Barat guna menyelesaikan kasus tindak kekerasan yang dilakukan oleh oknum berinisial RL terhadap salah satu anggota Polisi yang bertugas di Polsek Kairatu pada saat ia hendak mengikuti acara Baptis di Desa Murnaten, Kecamatan Taniwel, Kabupaten Seram Bagian Barat.

Hal ini disampaikan langsung oleh Kepala Kejaksaan Negeri Seram Bagian Barat , Sugih Carvallo, Kamis, (25/3/21) usai melakukan pertemuan bersama Penjabat Desa Murnaten, Kapolsek Taniwel, Ayah Pelaku, juga Tim Penyidik Kejari SBB tepat Kantor Kejaksaan.

Kejadian itu bermula saat Abraham Wemai yang merupakan korban kekerasan dan juga Polisi aktif ini hendak berjalan menuju rumah salah satu warga setempat untuk buang air kecil nasib apes ini terjadi pada hari Minggu (07, Februari 2021 lalu, sekitar Pukul 20.00 Wit. Ujar Carvallo

Baca Juga  Piala Menpora Lancar, Zainudin Amali Yakin Izin Liga 1 Akan Terbit

Tambahnya lagi, pada saat korban dalam perjalanan ke tempat yang ia maksud, tiba tiba Ia di cekal oleh pelaku yang juga sementara sedang berdiri bersama dengan Dua orang pemuda setempat.

Link Banner

Korban sempat meminta permisi kepada pelaku dan rekan rekannya. Mereka juga pada saat itu menanyakan alamat dan asal usul korban, namun taklama kemudian pelaku melakukan pemukulan terhadap korban sebanyak Tiga (3) kali di bagian area wajah korban .

Menurut Carvallo, pelaku pemukulan juga pada saat itu sedang dirasuki minuman keras hingga ia tidak sadar jika yang ia pukul merupakan Polisi.

Sementara itu, berdasarkan hasil Visum et Repertum No RM : 22-01-01 tanggal 08 Februari 2021 yang dikeluarkan oleh Puskesmas Perawatan Taniwel dan tertanda tangani oleh dr. Riostamenia Pesahlia Salaka (dokter yang memeriksa). Dengan kesimpulan bahwa, Akibat perbuatan pelaku tersebut, korban alias Abraham Wemay mengalami luka lecet pada bibir bawah bagian dalam, selaput lendir pipi bagian kiri.

Sehingga atas perbuatan tersangka kekerasan tersebut diancam dengan pasal 351 Ayat (1) KUHPidana dengan ancaman pidana penjara paling lama 2 tahun 8 bulan atau denda maks. Rp. 4.500.

Baca Juga  Jadwal Imsak dan Buka Puasa di Kota Ambon, Senin 19 April 2021

Berdasarkan hasil pantauan awak media,tindak kekerasan demikian di selesaikan secara kekeluargaan antara dua bela pihak oleh Kejari SBB, dengan penandatanganan akta perdamaian bagi RL.

Diketahui bahwa Peraturan Kejaksaan Nomor 15 Tahun 2020 itu memberikan hak kepada jaksa penuntut umum (JPU) untuk menghentikan penuntutan terhadap terdakwa dalam kasus-kasus tertentu apabila pihak-pihak yang terlibat sudah sepakat berdamai.

Mengawal ketentuan yang diatur dalam Peraturan Kejaksaan RI Nomor 15 Tahun 2020 tentang Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif, Kejari SBB harap ini menjadi acuan bagi kita sekalian untuk mengedepankan asas kekeluargaan.

Sesuai Peraturan Kejaksaan Nomor 15 Tahun 2020 adalah sebuah terobosan yang dilakukan kejaksaan.

“Jadikan ini sebagai kesempatan untuk membuktikan kepada publik bahwa kejaksaan dekat dengan rasa keadilan yang hidup di dalam masyarakat,” ucap Carvallo. (kahar)