Rumah dan Luka

oleh -42 views

“Tuhan tidak pernah tidur. Ia tahu mana yang benar dan salah. Tak perlu engkau gembor-gemborkan mana yang sebenarnya baik dan buruk. Kita hidup tidak untuk menyenangkan hati orang-orang,” Nyonya selalu berkata demikian dengan tampang yang pasrah. Namun Nyonya, apa salah jika membela diri? Tuhan mungkin tidak akan keberatan jika sedikit saja mengatakan apa yang dirasakan.

Tuan yang katanya cinta pertama, namun bagiku hanya omong kosong semata. Engkau mungkin adalah pengecualian yang hanya mampu dihadapi oleh segelintir orang. Terlalu banyak racun yang Tuan tuangkan sehingga aku lupa apapun tentang kau selain hanya cedera yang aku rasakan. Aku benci engkau, Tuan. Sangat benci, sebesar sayang yang aku miliki dalam diam.

Baca Juga  Danantara vs Korporasi: Untung atau Buntung?

Brakkk….

Suara pintu yang dibanting memecah lamunan. Sudah pasti perang dingin telah dimulai. Ini adalah adegan paling menyebalkan yang sering terjadi di rumah ini. Membuat bingung orang lain saja Tuan dan Nyonya ini. Jika sudah begini, aku harus membela yang mana? Biarkan sajalah mereka, lebih baik aku melanjutkan kegiatan meratapi nasibku lagi. Sampai mana tadi? Sial, aku jadi lupa.

Ah, apa ini?

Tak perlu sampai menjatuhkan air mata. Aku sudah terbiasa dengan siksaan ini. Harus berapa banyak lagi air mata yang keluar? Ia tak mengubah apapun. Setelah tangis usai, luka baru akan tiba lagi. Itu hanya buang-buang waktu saja.

No More Posts Available.

No more pages to load.