Rumah dan Luka

oleh -40 views

“Tetapi bukankan Tuhan tidak akan membebani hambanya melebihi kemampuannya? Lalu mengapa Ia memberimu beban yang begitu berat? Seharusnya sah-sah saja jika engkau menyerah.”

Akhirnya, aku sudah tidak tahan lagi. Suara yang kutahan kukeluarkan dengan lantang.

“Tuhan tahu aku kuat. Meski tak jarang aku merintih ketika aku sudah tak tahan. Engkau juga begitu, Tuhan tahu engkau kuat. Walau engkau menampik hal itu. Tidak semua rumah menyuguhkan bahagia. Untuk sebagian manusia yang terpilih, mereka mendapat rumah yang membuatnya berdarah.”

Apa katanya? Ia malah semakin membuat aku muak. Aku hanya ingin ia kali ini mengatakan menyerah, bukan memperdayaku untuk sama sepertinya. Aku ingin ia merasa bahagia dan lekas lega. Begitu pun Tuan sang pembuat luka, kupikir ia akan sama bahagianya. Tak peduli dengan aib atau reputasi sialan itu. Semua orang berhak bernapas lega; bukan hanya satu orang yang harus dipedulikan, ini tidak adil. Bukankan jalan ke surga tidak hanya satu jalan saja? Jika satu cara terlalu sukar, masih banyak cara lain yang bisa ditempuh. Kita hanya manusia yang memiliki batas, bukan para Nabi yang sabarnya tiada habis.

Nyonya mengusap kepalaku dengan lembut. Ia menyihirku lewat tangannya yang sakti itu. Matanya seperti memancarkan mantra-mantra yang membuat hati kembali teduh. Sial, ke mana perginya kebencian yang telah menggunung tadi? Jangan menyihirku! Aku tidak ingin sama sepertimu.

No More Posts Available.

No more pages to load.