Rumah dan Luka

oleh -33 views

Karya: Siti Rubaiah Al Adawiyah

Lagi dan lagi, rasa sesak mendominasi. Atmosfer di rumah ini tak pernah menyejukkan, hanya mengantarkan pada sesak dan kian sesak. Beberapa pertanyaan akhir-akhir ini berputar di kepalaku, yang paling membuatku penasaran, mengapa dua tokoh utama tak kunjung mengakhiri cerita?

Setiap tokoh hanya merasakan lara, saling menyiksa dan meracuni. Namun entah mengapa tiada satu pun yang berniat untuk pergi? Mengakhiri cerita yang semakin ditumpuk derita. Rumah yang terselimuti segala kerumitan yang sulit diterjemahkan, dan sialnya aku adalah bagian di dalamnya. Ini sungguh membuatku gila. Aku sudah muak dengan semuanya.

Rumah yang dibangun karena keterpaksaan, putus asa pada takdir tanpa memikirkan konsekuensi yang akan terjadi di kemudian hari. Layaknya air dan minyak yang sulit untuk menyatu. Tuan yang namanya harum dikatakan orang-orang. Kesempurnaan Tuan diagungkan orang-orang. Padahal mereka hanya sok tahu. Sedangkan Nyonya yang dianggap tokoh jahat, hanya karena berasal dari dunia yang berbeda dengan sang Tuan.

Ingin saja kuteriakkan apa yang sesungguhnya terjadi. Berteriak bahwa yang mereka katakan adalah omong kosong. Mereka terperdaya oleh bualan Tuan yang pandai menipu. Mereka tak pernah tahu berapa banyak kesukaran yang telah Nyonya lalui, berapa ribu duri yang menancap di tubuh Nyonya, dan sayatan-sayatan tak terhingga yang Nyonya tutup-tutupi.

No More Posts Available.

No more pages to load.