Pria berkacamata bulat itu bernama Fahriz Rukhzan Kurniawan, biasa dipanggil Fahri. Seorang psikiater di rumah sakit yang sama dengan Iyan. Alasan mengapa mereka baru saling mengenal mereka berdua sama-sama sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Ada-ada saja rencana yang dimiliki tuhan, kerja di rumah sakit yang sama juga seumuran lagi.
Tidak terasa karena sibuk saling membalas kalimat masing-masing, langit yang tadinya berwarna oranye berganti menjadi malam. Berawal dari rebutan novel menjadi kawan berbagi hobi. “Tadi kamu ke toko buku naik apa?”, tanya Fahri kepada perempuan yang berada di depannya. “Naik angkot, lumayan juga kan hemat bensin mobil haha”, balas Iyan. “barengan aku aja, bahaya kalau perempuan pulang malam sendirian”, ucap Fahri menawarkan untuk mengantarkannya. Suasana kota Padang saat malam memang rawan dengan preman. “Boleh deh, makasih ya Fahri”, ucap Iyan diiringi dengan senyum menawannya.
“Maaf kalau boleh saya nanya, kamu sudah punya pacar?”, tanya Fahri kepada Iyan. Dalam benak Fahri ia berkata, “aku bodoh sekali, tentu saja perempuan secantiknya sudah memiliki pasangan namun belum tau jika belum bertanya kan”. “Belum ada, meskipun saya suka dengan tema tentang cinta tetapi saya tidak berniat untuk mempunyai satu di dunia nyata. Mungkin faktor sibuk bekerja juga sih, kalau kamu?”, giliran Iyan bertanya kepada lelaki di sampingnya itu. “Perasaan dari tadi kita sepemikiran terus ya hahaha”, ucap Fahri. “Iya hahaha sehati mulu nih kita”, balas Iyan.











