Sawai dan Masihulang: Retak di Tanah yang Sama

oleh -229 views

Anak-anak bersembunyi. Perempuan menangis di balik pintu. Lelaki bersitegang, bukan untuk kemuliaan, tapi karena rasa takut dan harga diri yang terguncang.

Di antara api dan batu, yang menjadi korban bukan hanya tubuh, tapi warisan yang mestinya dijaga bersama.

Namun, mari kita ingat: tidak ada satu pun dari mereka yang lahir untuk membenci.

Tidak ada satu pun ibu di Sawai maupun Masihulang yang mengajarkan anaknya menanam dendam.
Karena jauh di dalam, semua tahu—darah mereka bersaudara. Menyusui pada satu sungai yang sama.
Yang mereka perjuangkan adalah martabat. Yang mereka jaga adalah hak dan cerita leluhur.

Kini, setelah bara menyisakan abu, mari kita duduk dan dengar suara yang lebih tua dari amarah:
Suara leluhur yang memanggil kembali kesatuan. Suara tanah yang rindu dipijak tanpa takut. Suara masa depan yang menunggu dijahit ulang dari kain yang koyak.

Baca Juga  Iran Ancam Tenggelamkan Kapal Perang AS di Selat Hormuz

Sawai dan Masihulang, kalian bukan musuh. Kalian adalah dua cabang dari pohon yang sama.
Dan pohon itu akan tumbang jika akarnya saling mencabut satu sama lain.

Sudah waktunya menumbuhkan kembali damai. Bukan dengan melupakan luka, tapi dengan mengobatinya bersama. Karena tanah ini terlalu sakral untuk diperebutkan dengan amarah.
Ia hanya bisa diwariskan dengan cinta dan keberanian untuk memulai kembali.

No More Posts Available.

No more pages to load.