Sebaiknya Aku Mengerti

oleh -685 views

“Maaf, yang pesen jus jeruk tadi siapa ya?” ucap penjaga kantin setengah berteriak. “Saya!” ucapku dan salah seorang lagi. Aku segera memalingkan pandanganku dengan tangan yang masih ku angkat. “Fasya?” ucap orang tersebut. “Karel?!” ujarku tak percaya. Kini aku tak mau bersikap seperti anak kecil lagi, aku akan berusaha tetap disitu. Semakin jelas aku mendengar derap langkah yang menuju kepadaku. Aku hanya tertunduk dan diam, aku tak mau melihat wajahnya lagi. “Hai Sya, apa kabar” ucap Karel lembut. “Oh saya baik” jawabku santai. “Kamu sudah jadi tunangan belum Rel?” ujar Noni menimpali. “Em.. rencana minggu depan Non”. “Oh begitu”. Aku tertunduk lemas, rasanya saat itu juga aku ingin pergi ke suatu tempat agar aku tak bertemu dengan Karel lagi. “Em, aku masuk dulu ya? Ada kelas siang ini” ucapku dan langsung pergi meninggalkan mereka di meja kantin.

Baca Juga  Pemkot Ambon Tekankan Penguatan Nilai Pancasila bagi ASN

Saat pelajaran pun aku tak bisa memfokuskan diriku pada pelajaran tersebut. Aku selalu terbayang tentang pertunangan Karel nanti. Setelah kuliah hari ini selesai, aku membuka lokerku. Dan ternyata ada sebuah amplop yang berukuran sedang. “Amplop? Dari siapa?” ucapku lirih. Sesegera mungkin aku membuka amplop tersebut. Aku mulai menarik isinya keluar. Sebuah kartu undangan pertunangan untukku. Aku membuka kartu itu, tiba-tiba ada sebuah kertas putih yang jatuh. Aku mengambilnya, dan perlahan ku buka kertas itu.
Untuk: Fasyaku

No More Posts Available.

No more pages to load.