Cerpen Karya: Ariska Amir
CERITA berawal dari seorang jurnalis muda yang sedang menyusuri area pertokoan tua. Dia celingukan mencari jalan pulang, karena sudah tengah malam dan hujan mengguyur sebagian tubuhnya, ia memutuskan untuk berteduh di depan sebuah toko grosir, bernama Holsel, kedengarannya seperti ejaan bahasa Inggris “wholesale”, mungkin pemiliknya sengaja memberi nama Holsel agar lebih mudah dalam penyebutan.
Belum diketahui maksud dan tujuan jurnalis muda, bernama Bre itu menyusuri pertokoan tua yang sudah lama ditinggalkan oleh penduduknya karena sebuah wabah virus mematikan yang melumpuhkan seluruh negeri. Neo-City, pukul 02.00, hari Minggu dini hari, tahun 2050. Bre mengeluarkan jam tangan transparan sampai kulit lengan kirinya bisa terlihat dan lalu, dia melipat scooter terbangnya ke dalam tas punggung.
“Aku yakin, ini adalah toko grosir yang dimaksud oleh Prof. Polly.” Bre mengingat perbincangan terakhir dengan Prof. Polly di ruang penelitian teknologi modifikasi cuaca yang lokasinya dijaga ketat oleh dua robot, Robo dan Moto. Sejak wabah menyerang dunia tiga puluh tahun lalu dan melenyapkan hampir seluruh penghuninya, hanya sekelompok oranglah yang masih bertahan hidup dan berupaya memperbaiki bumi ini. Namun, semakin canggih teknologi yang diciptakan oleh manusia, secara tidak langsung semakin merusak peradaban manusia itu sendiri.









