Setelah kejadian itu, Aku sering melamun di tempat yang sepi. “Besok pengumuman kelulusan, dan setelah itu Karel akan bertunangan” batinku menangis. Kini aku bukan lagi seorang periang. Aku selalu mengingat semua kenangan dulu di saat bersama-sama dengan Karel.
FASYA AULIA YOGASWARA — LULUS. Aku hanya tersenyum melihat tulisan yang terpampang di papan pengumuman. Lalu aku menggerakkan telunjukku ke bawah. GANENDRA KAREL YULIANTO — LULUS. Kenyataan ini yang membuatku semakin sakit. “Sya, gimana? Kamu lulus?”. “Alhamdulillah lulus Non” ucapku dengan nada lesu. “Lulus? Kenapa cemberut?”. “Karena Karel juga lulus Noni” ucapku menggentak. “Lalu kenapa? Harusnya kamu senang dong Karel lulus?”. “Senang? Aku harus senang?”. “Oh, aku mengerti sekarang. Jika Karel lulus, itu tandanya dia akan segera bertunangan bukan?” ucap Noni percaya diri. Aku tak menanggapi perkataannya itu. “Sudahlah Sya, mungkin karel bukan jodoh kamu. Sudah! Ayo ke kantin” Noni menarik tangaku.
Dan ini kenyataan yang sangat pahit! Aku bertemu karel di kantin. “Hai Sya” sapa Karel padaku. Aku tak menggubris sedikit pun sapaannya itu, aku segera membuang muka! Layaknya seseorang yang tidak pernah kenal. “Sya!” ucap Karel memegang tanganku. “Lepasin! Kamu itu siapa? Aku gak kenal!” ucapku menggentak. “Segitukah kau membenciku Sya?” tanyanya dengan nada memelas. “Maaf” ucapku meninggalkan Karel. Aku berlari meninggalkan Noni yang sudah duduk di meja kantin. “Sya Fasya” teriak Karel memanggilku. Noni segera menoleh ke arahku yang sedang berlari. “Ada apa lagi ini” batin Noni geregetan. Noni segera mengejarku. “Fasya berhenti! Kamu gak bisa kayak anak kecil terus dong! Kamu itu udah lulus SMA”. Aku menghentikan langkahku. “Biarkan aku untuk sendiri Non, ku mohon”. “Baiklah jika itu mau mu. Tenangkan dirimu Sya”.









