Secangkir Kopi Kerinduan

oleh -425 views

Pukul 22.10 handphonenya tiba-tiba berbunyi.
“Assalamualaikum wr.wb Helga, udah tidur ya? Ini aku Daniel, mau memberi kabar. Aku sudah di istana. Jangan sedih ya..” whatsapp dari Daniel.
“Waalaikumsalam wr.wb ”
“Kau tau malam ini rembulan bercerita padaku, ia berkata cahayanya begitu redup. Langit pun begitu hitam layaknya secangkir kopi kerinduan itu” ujar Daniel.
“Lantas?”
“Aku sedikit berbincang dengan rembulan, disaksikan oleh gemetap bintang bahwa aku akan segera datang untuk menemui permaisuriku dan meminum secangkir kopi kerinduan itu di gubuk tua”

Waktu terus berjalan!
Tepat pada 1 tahun, Daniel tak kunjung datang. Sekedar mengirimkan pesan pun tak pernah. Rasanya kini secangkir kopi itu telah dingin, hambar tak semanis dulu. Mungkin Daniel telah lupa akan rasa secangkir kopi kerinduan itu.

Baca Juga  Sejarah Integrasi dan Luka Agraria: Suara Sultan Ternate Menggema di DPD RI

Suatu saat Daniel kembali mengabari lewat whatsapp.
“Kini aku di istana telah dijodohkan oleh raja dan ratu, lantas bagaimana dengan permaisuriku di gubuk tua?”
Membaca pesan itu, hatinya seperti tertusuk belati. Sakit dan sangat perih, tapi tak mengapa asalkan Daniel bahagia ia rela melepaskan untuk permaisuri lainnya yang akan menikah dengan Daniel. Semenjak itulah ia mulai menghapus segala memori indah yang mereka lalui bersama, 99? kenangan indah itu hampir ia lupakan dari ingatannya. Tapi setelah 3 tahun Daniel kembali, seolah-olah seperti awal mereka berjumpa, seperti halnya secangkir kopi panas yang manis menyembunyikan pahitnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.