Secangkir Kopi Kerinduan

oleh -426 views

Ia meneguk aroma kenikmatan secangkir kopi.
Daniel berkisah. Menjelaskan semua yang terjadi.
“Sejujurnya, aku tak sanggup mempunyai teman seperti intan yang suka mencari muka kepadaku. Aku jijik melihatnya, padahal dia baru masuk 1 bulan di sekolah kita tapi dia sudah menghancurkan semuanya. Kita pun sering bertengkar hanya karena salah faham, semoga keputusanku untuk pulang ke istana ini benar-benar yang terbaik”
Kulihat, matanya berkaca-kaca.

“Apa ini keputusan yang tepat?”, tanyanya.
“Iya, aku rasa ini sudah benar-benar tepat. Tapi tenanglah, kita masih bisa seperti dulu” jawab Daniel.
Ia hanya diam, raut wajahnya berubah menjadi merah padam..

Malam sudah terlalu larut, secangir kopi itu pun telah habis diteguk. Jam menunjukkan pukul 01.00 Wib, Daniel segera berpamitan dengannya dan kedua orangtuanya. Ia iringi setiap langkah kepergian Daniel dengan tetesan air mata. Sungguh, perpisahan itu sangat memberatkan baginya dan Daniel. Akan tetapi, seperti itulah kehendak sang ilahii robbii.

Baca Juga  Kades Pulau Gala Bawa-bawa Retreat dan Bupati Cup, Kadis PMD Halsel Bongkar Fakta

Dibawah sinar rembulan mereka saling menatapi perpisahan itu. Sebelum pulang Daniel memberikan handphone yang dibawanya saat ketinggalan di sekolah itu untuk kado perpisahan mereka.
Daniel bergegas pulang.

Seminggu telah berlalu. Tampak ia masih termenung dan ring meneteskan air mata ketika mengingat Daniel. Baginya, sosok Daniel ialah seorang sahabat yang baik, taat beribadah, pengertian dan dia laki-laki yang paling sabar menghadapi sifatnya yang keras itu.

No More Posts Available.

No more pages to load.