Selain itu, penduduk Khaibar juga berperan memprovokasi Bani Quraizhah agar ikut melanggar perjanjian tersebut, serta menjalin kerja sama dengan pihak-pihak yang memusuhi umat Islam, seperti kaum munafik, suku Gathafan, dan kelompok Arab Badui.
Jauh sebelum Perang Khaibar pecah, hubungan antara umat Islam dan penduduk Khaibar sudah diwarnai ketegangan akibat serangkaian konflik yang berkepanjangan. Beberapa aksi penyerangan berskala kecil yang dilakukan oleh kaum Yahudi Khaibar terhadap kaum muslimin turut memperkeruh keadaan dan memperbesar potensi terjadinya peperangan.
Tekad kaum muslimin di Madinah untuk menghadapi penduduk Khaibar semakin menguat setelah turunnya firman Allah SWT dalam Surah Al-Fath ayat 20.
وَعَدَكُمُ اللّٰهُ مَغَانِمَ كَثِيْرَةً تَأْخُذُوْنَهَا فَعَجَّلَ لَكُمْ هٰذِهٖ وَكَفَّ اَيْدِيَ النَّاسِ عَنْكُمْۚ وَلِتَكُوْنَ اٰيَةً لِّلْمُؤْمِنِيْنَ وَيَهْدِيَكُمْ صِرَاطًا مُّسْتَقِيْمًاۙ ٢٠
Artinya: Allah telah menjanjikan kepadamu rampasan perang yang banyak yang (nanti) dapat kamu ambil, maka Dia menyegerakan (harta rampasan perang) ini untukmu. Dia menahan tangan (mencegah) manusia dari (upaya menganiaya)-mu (agar kamu mensyukuri-Nya), agar menjadi bukti bagi orang-orang mukmin, dan agar Dia menunjukkan kamu ke jalan yang lurus.










