Selembar Daun Yang Jatuh

oleh -673 views

Persahabatan itu indah jika kau mampu menjaganya dengan baik. Ia ibarat intan permata yang sangat mahal. Namun jika kau ceroboh maka dengan mudahnya intan itu mudah untuk retak.

Roda waktu terus berjalan hingga tak terasa memasuki tahun ketiga. Setidaknya aku sudah bisa maknain dan baca kitab sendiri begitu pikirku. Aku tak begitu khawatir tidak betah dipondok. Hanya saja saat ujian untuk tidak melanggar aturan pondok itulah justru yang sangat susah untuk kuhindari. Terutama semenjak beni membawa sesuatu yang amat terlarang di pondok. Sebuah benda kotak yang bisa memantulkan sinar yang sudah kalian kenal di masa kini dengan sebutan handphone. Tak terasa pikiranku yang jenuh dan gabut karena aktivitas mengaji yang padat menggodaku untuk mengikuti jejak beni. Pikiranku waktu itu sederhana Cuma ingin bermain facebook tak ada yang lain.

Baca Juga  The Economist Sebut Prabowo Otoriter dan Boros

“van apa yang sedang kau lakukan di pojokan?” tanya fadli suatu ketika.
“stttt! Jangan berisik” Aku berseru lirih. Dia justru malah melangkah mendekat.
“jangan bilang-bilang ya…”
“santai aja kali, aku kan temanmu. Eh, ngomong-ngomong kau lagi maen apa nih asik bener kayaknya?” tanya fadli. Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Secara refleks tanganku bergerak menyembunyikan benda itu kedalam sarungku.
“hayo lagi apa, hayo?”
aku mengeluarkan umpatanku saat ternyata yang membuka pintu adalah beni. Dia hanya nyengir seakan tak punya dosa.
“tutup lagi pintunya ben!”
“oke oke kalem wae bro…”

No More Posts Available.

No more pages to load.