Tak hilang akal, Shaggydog tetap mencari tahu lebih jauh soal ska melalui berbagai alternatif. Heru menyebut, anak-anak rela merogoh kocek Rp15-20 ribu pada saat itu hanya untuk bisa berselancar di dunia maya, mencari tahu roots ska. Itu pun koneksinya masih sangat lambat.
Mereka juga saling tukar informasi dengan pelaku skena musik di Jakarta hingga Bandung untuk dapat referensi baru. Mereka saling meminjam katalog kaset dan CD, majalah-majalah musik subkultur atau ska punk, sampai kegiatan rekam-merekam.
“Waktu itu juga belum ada marketplace seperti sekarang. Kami mengorder [mail order] dengan uang dolar. Kami menyelipkannya menggunakan karbon yang hitam agar uang tidak ter-scan di Mesin X-Ray untuk kita kirim ke New York untuk beli [compact disk] CD,” ujar Heru mengingat kembali bagaimana Shaggydog mencari tahu soal musik ska.
“Itupun datangnya sebulan kemudian dari New York, kan record store [termasuk Moon Ska Record] itu dari luar negeri kebanyakan kan, untuk referensi musik-musik yang kami mainkan. Salah satunya seperti itu,” lanjut dia.
Shaggydog melakukan itu karena bukanlah orang beruntung yang acap kali pelesiran ke luar negeri untuk membeli CD, majalah dan fashion item bak don juan. Mereka harus punya banyak akal untuk mencari musik-musik yang disukai.








