Kronologi Konflik
Sebelumnya, konflik melibatkan kelompok masyarakat dari suku Hubla (Kurima) dan suku Lanny (Tiom). Perselisihan dipicu aksi pemalangan jalan pada Juni 2024, setelah kecelakaan lalu lintas yang terjadi pada Mei 2024 di Kampung Megapura.
Konflik sempat diselesaikan melalui musyawarah adat dengan kesepakatan denda Rp2 miliar dan 30 ekor babi. Namun, ketidaksepakatan terkait pembayaran memicu ketegangan baru.
Bentrok kembali pecah pada 15 Mei 2026 di sejumlah titik, termasuk kawasan Jalan Diponegoro dan Pasar Wouma. Insiden tersebut mengakibatkan korban jiwa, luka-luka, serta pembakaran rumah dan honai warga.
Kapolres Jayawijaya, Anak Agung Made Satriya Bimantara, menyebut aparat gabungan dari Polres Jayawijaya dan Brimob telah dikerahkan untuk meredam konflik.
Korban dan Pengungsian
Dari rangkaian konflik tersebut, tercatat total 21 korban, terdiri dari:
- 2 orang meninggal dunia
- 4 orang luka berat
- 15 orang luka ringan
Selain itu, sebanyak 609 warga terpaksa mengungsi ke Mapolres Jayawijaya untuk menghindari dampak bentrokan.
Meski situasi kini mulai kondusif, aparat keamanan masih terus bersiaga guna memastikan stabilitas tetap terjaga dan masyarakat dapat kembali beraktivitas dengan aman.
(red/beritasatu)
Porostimur.com berkomitmen memberikan fakta jernih, terpercaya, dan berimbang. Simak berita dan artikel terbaru kami di: WhatsApp Channel porostimur.com











