Sketsa Kekerasan Perempuan Pedesaan

oleh -529 views

“Mau ke mana,” tanya sang sopir.
“Ke Polsek Oba, jawab saya.

Tak lama sopir mengatakan, kita harus pergi. Saat itu, masih cerah. Di dalam mobil hanya kami bertiga. Saya, sopir, seorang penumpang yang akan turun di Payahe.

Mobil yang saya tumpangi melaju dengan cepat. Melewati rumah, hutan, dan girimis. Sejam telah berlalu. Hujan pun turun lebih deras. Jalan sepi. Kabut pela-pelan datang, dan kaca mobil mulai gelap. Hari itu, Rabu, 14 Agustus 2024 saya merasa ditantang.

Hujan tak reda. Di tengah perjalanan, saya menyaksikan secara saksama, seorang ibu dan anaknya menangis di tepi jalan. Anak itu, memeluk ibu erat-erat. Disitu, ada seorang lelaki dengan sepeda motornya berdiri, seakan tak memberi tumpangan. Saya tak tahu, apakah dia adalah suaminya, atau tidak?.

Saya meminta sopir untuk berhenti sebentar. Dari dalam mobil, saya melihat ibu itu menangis. Tetesan air mata jatuh. Hingga mengenai pakaiannya, yang telah beberapa jam basah kuyup.

Baca Juga  Lantik Tiga Pejabat Baru, Bupati Haltim Tegaskan Pengisian Jabatan Berbasis Meritokrasi

“Hati saya tak tega melihatnya. Tak lama kemudian, om sopir menancap gas mobil. Dan kami meninggalkan mereka dengan cemas.

Satu jam perjalanan, kami tiba di Polsek Oba. Hujan mulai reda. Setelah turun dari mobil, saya langsung menemui Kapolsek Oba Ipda Muis Ode Amran.

No More Posts Available.

No more pages to load.