Ungkapan itu, menjadi luka, derita, dan penindasan di hujan bulan Agustus. Tapi ada perempuan yang harus merdeka, tanpa dijajah secara jiwa raga telah mendapat kekerasan secara brutal terhadap oleh suaminya, hingga ia dilarikan ke Puskesmas Talagamori.
Rintik hujan masih terdengar. Makin deras. Ibu Nona, korban pemukulan terhadap suaminya itu, tiba-tiba muncul. Dengan pakain daster dan jilbab itam. Namun, masih membekas luka dan bengkak, serta bibirnya. Sementara kepalanya masih terasa sakit.
Ia terlihat lemas. Tak ada senyum di wajahnya. Bagi dia, yang tertinggal saat melaporkan suaminya ke Polsek Oba, hanya menambah kesedihan dan harapan yang pupus selama berumah tangga. Sebab Indonesia sudah memasuki usia yang ke 79 tahun, perempuan di pedesaan belum mendapat kemerdekaan secara batinia dan rohania.
“Paska mendapat kekerasan dari suaminya, ia sering pusing saat tidur. Karena satu hari lebih saya dirawat di Puskesmas,” ceritanya.
Nona Hamid, korban pemukulan becerita. Sebelumnya, ia mengetahui, malam itu, suaminya berkomunikasi via telephone dengan seorang perempuan sekira pukul 05:00 WIT. Pikirnya, masalah sebelumnya suaminya sudah tak mengulangi perbuatannya lagi.
Namun, tak disangka bahwa suaminya telah berulah lagi. Tapi, ia mendengar suara suaminya sering menelpon dengan perempuan lain, samping jembatan.








