Di hadapan pelaku saat dilakukan penyelesaian di kantor Polsek Oba, Faujia menegaskan,”katong (kami) ini bukan keluarga jahat seperti ngoni (kalian), karena kelakuannya itu, sudah di luar nalar”.
“Jika kami punya kelakukan seperti dia (pelaku), mungkin suami dari adik saya ini, tidak lagi sehat,” ungkapnya.
Sebagai orang perantau sejak 18 tahun lamanya, ia memahami betul dinamika orang-orang di banyak tempat yang berjuang keras demi menghidupi keluarga. Tak segampang membalik telapak tangan. Tantangan yang dirasakan itulah membuat dirinya terus perlahan bangkit dengan sendirinya.
Kasus yang dialami Nona, adiknya ini sudah beberapa kali dilaporkan ke polisi dengan berakhir secara kekeluargaan dengan membuat surat pernyataan.
“Kalau surat pernyataan yang kami buat itu, sudah tiga kali. Dari ketiga surat pernyataan itu, satunya dibuat hanya di dalam keluarga. Tapi, kami punya kuasa hukum pengacara yang di atas surat tersebut tertuang meterai. Bila surat pernyataan terakhir ini, bila dia (pelaku) membuat perbuatannya lagi, saya tidak ada toleransi,” tuturnya.
Begitulah ketegasan Faujia. Dengan pakain kuning, rambut pendek, dengan kira-kira tinggi sekitar 160 cm, dan wajah tegas, ia berpamit ke dapur. Seperti kata Sapardi Djoko Damoni dalam puisinya “tak ada lebih tabah dari hujan bulan juni/ dirahasiakannya rintik rindunya/ kepada pohon berbunga itu.








