Sketsa Kekerasan Perempuan Pedesaan

oleh -510 views

“Suami saya saat itu, dalam keadaan mabuk. Tapi dengar volume suara telephone agak besar sehingga saya mulai curiga,” akuinya.

Tak lama kemudian, ia pulang ke rumah karena anaknya menangis.

“Saya bilang kepada anak saya, tidur sudah. Karena belum rasa ngantuk, saya sempat melihat hanphone. Kemudian masuk mandi. Beberapa menit kemudian, anaknya bertanya, bikiyapa papa belum pulang,” terangnya.

Malam itu, hujan. Ia keluar dengan kain untuk menutup kepala. Berjalan ke salah satu rumah, dimana suaminya sering minum.

Di rumah tersebut, saya melihat botol minuman keras ukuran botol aqua besar. “Botol minuman itu, teman-teman suami saya tara minum, hanya suaminya saja. Saya kemudian mengambil ATM di dompet milik suami saya. Setelah itu, langsung pergi tanpa bicara, ”Nona berkisah.

Baca Juga  FINI Sambut Pembatalan Skema Gross Split Minerba, Dinilai Jaga Iklim Investasi Nikel

Tak sampai menit, suaminya mengejar. Dia memeluk. Karena terlalu mabuk, suaminya terjatuh.
Belum sampai di rumah, Nona menelpon anaknya dan bilang,” Tuty, kase bangun angga. Torang jangan tidur di rumah. Akhirnya suami saya tiba di rumah dan melempar kaca rumah,” cerita Nona, sambil meneteskan air mata. Suaminya terus mencari. Mengejar. Menurutnya, ia memutuskan untuk tidur di rumah tetangganya. Tapi tak bisa tidur, langsung bangun malam itu.

No More Posts Available.

No more pages to load.