Soroti Ucapan “Monyet” kepada Mahasiswa Seram, Alhidayat Wajo: Kemerdekaan Tak Boleh Diikuti Penghinaan

oleh -5 Dilihat
Ketua Komisi III DPRD Provinsi Maluku Alhidayat Wajo mengatakan, siapa pun yang berhadapan dengan masyarakat, baik pejabat, ajudan maupun pihak lainnya, tetap memiliki kewajiban menjaga etika komunikasi dan menghormati lawan bicara.

“Terhadap semua kelompok masyarakat, mau itu pejabat, ajudan dan lain-lain, memiliki standar yang sama dalam berkomunikasi. Wajib memberikan penjelasan secara baik dan dapat dimengerti oleh lawan bicara,” kata Alhidayat.

Alhidayat: Kemerdekaan Tak Berarti Boleh Merendahkan

Menurut Alhidayat, insiden tersebut harus menjadi catatan bersama bahwa makna kemerdekaan tidak berhenti pada upacara, pengibaran bendera maupun simbol-simbol kenegaraan.

Kemerdekaan, kata dia, juga harus tercermin dari cara negara memperlakukan setiap warga negara secara bermartabat.

“Masalah hari ini menjadi catatan penting bagi kita semua bahwa kemerdekaan sejati adalah memerdekakan orang lain dengan cara tidak menghina atau merendahkan martabat manusia yang lain,” tegasnya.

Sebagai anak Seram, Alhidayat mengaku ikut merasa tersinggung dengan perlakuan yang dialami Will.

Baca Juga  Upacara HUT ke-81 RI di Halbar Berjalan Lancar, Bupati James Uang Bertindak sebagai Inspektur

Ia mengatakan, kedatangan mahasiswa tersebut tidak semata-mata membawa kepentingan pribadi. Will disebut menjalankan amanah dari tetua adat di Pegunungan Manusela untuk menyampaikan pesan secara langsung kepada Gubernur Maluku.

“Saya sebagai anak Seram tentu merasa tersinggung karena adik mahasiswa ini datang menyampaikan pesan adat dari tetua adat Seram Manusela. Pesan itu tidak bisa diwakilkan kepada siapa pun. Yang mendapat pesan wajib menyampaikan secara langsung,” ujarnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.