Suara yang Masih Terdengar dari Kota Tua

oleh -31 Dilihat

Ia membayangkan seorang meneer duduk di ruangan itu dua abad silam.

Meja kayunya penuh buku pembukuan.

Di tangannya secangkir kopi.

Di atas mejanya angka-angka keuntungan.

Di luar gedung, matahari membakar punggung orang-orang yang memikul karung kopi dan gula.

Mereka tak pernah mengenal angka keuntungan.

Yang mereka kenal hanyalah jumlah cambukan dan panjang hari kerja.

Aldo menyesap kopinya perlahan.

Rasanya pahit.

Entah karena bijinya atau karena bayangan yang muncul di kepalanya.

***

Pelayan menghidangkan sepotong kue pala.

“Ada cerita di balik kue ini,” katanya ramah.

“Resep lama.”

Aldo tersenyum.

Ia tahu.

Pala bukan sekadar rempah.

Di Banda Neira, pala pernah lebih mahal daripada emas.

Baca Juga  Weda, Lain Dulu-Lain Sekarang

Karena pala pula pulau-pulau kecil menjadi rebutan bangsa-bangsa besar. Darah tumpah di kebun-kebun. Kampung-kampung dibakar. Orang-orang dipindahkan. Laut menyimpan terlalu banyak nama yang tak lagi diingat.

Ia teringat cerita kakeknya di Ambon.

“Dulu moyang katong bukan cuma tanam pala,” kata sang kakek.

“Mereka juga tanam air mata.”

Kalimat itu tak pernah benar-benar pergi dari ingatannya.

***

Suara musik jazz mengalun pelan dari pengeras suara.

Namun di telinga Aldo, irama itu perlahan berubah menjadi denting piano tua.

No More Posts Available.

No more pages to load.