Suara petani tebu.
Suara buruh kopi.
Suara perempuan yang kehilangan suami karena perang.
Suara anak-anak yang tumbuh tanpa pernah melihat ayahnya pulang dari perkebunan.
Mereka tidak tercetak dalam laporan tahunan perusahaan dagang.
Tetapi gema mereka masih tinggal di batu-batu tua Kota Tua.
****
Menjelang sore, Aldo berjalan keluar menuju Lapangan Fatahillah.
Matahari mulai condong ke barat.
Anak-anak berlarian menyewa sepeda warna-warni.
Musisi jalanan memainkan lagu-lagu lama.
Wisatawan berfoto tanpa henti.
Kota itu tampak damai.
Di tengah keramaian, matanya berhenti pada patung kecil seorang pejuang yang dijual pedagang kaki lima.
Ia menggenggamnya sejenak.
Khairun.
Babullah.
Nuku.
Pattimura.
Nama-nama itu melintas di benaknya seperti ombak yang datang bergantian dari timur.
Mereka mengangkat senjata melawan penjajahan dengan keyakinan bahwa suatu hari anak cucunya akan hidup sebagai bangsa yang merdeka.
Aldo menarik napas panjang.
Ia membuka kembali buku catatannya.
Kali ini ia akhirnya menulis satu kalimat.
“Kolonialisme tidak selalu berakhir ketika bendera diturunkan. Kadang ia hanya berganti rupa: menjadi ketimpangan, keserakahan, dan lupa pada sejarah sendiri.”
Ia menatap sekali lagi deretan bangunan tua di hadapannya.










