Dengan uang gaji itu tentu aku bisa membeli topeng dan pedang plastik yang bisa menyala beberapa buah. Bertarung dengan kawan-kawanku dan aku akan mempertahankan posisiku sebagai Power Rangers Merah. Menjadi pemimpin di permainan itu lalu berteriak-teriak membunuh monster-monster yang hendak menyerang bumi. Aku, Seno, Gilang, Lastri, dan Dwi akan terus mempertahankan keutuhan bumi. Jumpalitan di pekarangan Pak Kemat hingga sore hari lalu meninggalkan jejak-jejak pohon singkong dan pohon pisang yang patah dan berantakan.
Kulihat, Lastri dan Gilang saling berebut peran. Gilang yang kemayu malah ingin jadi Power Rangers Pink. “Kamu kan laki-laki?” Begitu tanyaku ketus. Aku tak tahu apakah sampai hari ini ia masih sakit hati padaku. Yang terjadi kemudian kami lari tunggang langgang lantaran diusir Pak Kemat yang berteriak kesal di pintu belakang rumahnya.
Ternyata, meninggalkan masa kekanakan dan menjadi dewasa tak semudah yang kubayangkan. Cicilan motorku yang nunggak, belum bayar SPP kuliah, menunggu honor cerpen yang tak kunjung datang, juga cinta dan rindu pada teman wanitaku yang tak kunjung terbalas. Aku bisa saja menginginkan atau meminta Tuhan mengubah tubuhku kembali kecil seperti bocah. Namun tetap saja, pikiran dalam otakku akan terus mendewasa. Jelas berbeda.











