“Hanya Jeffry dan Murad yang elektabilitasnya di atas 15 persen dan jarak elektabilitasnya jauh dibandingkan dengan nama-nama cagub lainnya,” ujar Peneliti Senior LSI Denny JA, Adjie Alfarabi.
Dengan begitu, pertarungan pilkada Maluku per hari ini hanyalah pertarungan head to head dua tokoh, antara petahana vs pendatang baru, yaitu Jeffry versus Murad.
“Secara teori dan pengalaman, tentunya Jefrry lebih diuntungkan dengan statusnya sebagai challenger (penantang),” lanjut Adjie.
Sebaliknya, sebagai petahana, Murad dalam posisi yang lebih sulit. Murad seharusnya memiliki elektabilitas yang tinggi. Namun 15 bulan jelang Pilkada, elektabilitasnya yang kalah dari Jeffry.
“Itu mengindikasikan bahwa rakyat Maluku tak menginginkan kepemimpinannya berlanjut. Mereka ingin perubahan dan pergantian kepemimpinan,” ungkapnya.
Adjie mengungkapkan, berdasarkan hasil survei, ada empat alasan kuat yang menjelaskan rendahnya elektabilitas Murad.
Pertama, kepuasaan terhadap kinerja Gubernur dan wakil gubernur di bawah 50 persen.
Mereka yang menyatakan puas terhadap kinerja Murad sebagai Gubernur hanya sebesar 40,7 persen.
Sementara mereka yang menyatakan tak puas atas kinerja Murad sebagai gubernur sebesar 50,3 persen.









