Ia juga mengingatkan bahwa apatisme dan skeptisisme masyarakat kerap muncul ketika kebijakan justru menciptakan jarak antara pemerintah dan warga.
Keterbatasan Lahan dan Tantangan Kota Ambon
Sementara itu, Staf Ahli Pemerintahan dan Pelayanan Publik Pemkot Ambon, Alex Ursepuni, menyoroti keterbatasan lahan sebagai tantangan utama penataan ruang di Ambon.
Kondisi geografis yang didominasi kawasan berbukit membuat ruang pengembangan kota semakin terbatas, sementara jumlah penduduk terus meningkat.
“Pertumbuhan penduduk tidak sebanding dengan ketersediaan ruang. Karena itu, penataan ruang harus direncanakan secara matang dengan melibatkan masyarakat,” katanya.
Ia menyebut, pemerintah saat ini tengah menyusun dokumen tata ruang terbaru dan membuka ruang partisipasi publik seluas-luasnya.
Alex juga menekankan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga ruang publik, termasuk dalam menghadapi tantangan era digital.
“Pemuda harus menjadi jembatan antara masyarakat dan pemerintah, sekaligus garda terdepan melawan hoaks dan ujaran kebencian,” tandasnya.
Diskusi ini menegaskan satu hal penting: masa depan Kota Ambon tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi juga oleh kemampuan menghadirkan ruang hidup yang sehat, inklusif, dan memperkuat solidaritas sosial masyarakat.









